Tulisan ini dimaksudkan untuk menanggapi tulisan Coen Husain Pontoh berjudul Buta Huruf Marxisme yang dimuat di IndoPROGRESS pada 6 Juni 2016. Di tulisan tersebut, Pontoh mengritik kalangan demokrat yang dipandangnya tidak dapat membedakan antara Marxisme sebagai teori sosial dan Komunisme sebagai eksperimentasi sejarah yang dipraktikkan oleh Uni Soviet dan negara-negara komunis lainnya atau dikenal juga sebagai Marxisme-Leninisme. Lebih jelasnya, Pontoh menulis,
"A lot of people think international relations is like a game of chess. But it's not a game of chess, where people sit quietly, thinking out their strategy, taking their time between moves. It's more like a game of billiards, with a bunch of balls clustered together."
Madeleine Albright
Showing posts with label indonesia. Show all posts
Showing posts with label indonesia. Show all posts
Tuesday, June 21, 2016
Wednesday, January 27, 2016
Membangun Konsorsium Perpustakaan HI
Salah satu persoalan yang dihadapi mahasiswa HI di Indonesia adalah minimnya sumber literatur yang dapat digunakan untuk menunjang perkuliahan. Mengharapkan buku-buku dan jurnal-jurnal dari perpustakaan kampus tidaklah mencukupi karena, pada umumnya, sebagian dari buku dan jurnal yang ada telah usang. Hal ini terutama disebabkan oleh kendala finansial yang dihadapi oleh kampus untuk selalu menyediakan buku-buku ataupun jurnal-jurnal baru yang bermutu.
Wednesday, July 01, 2015
Kecelakaan Hercules C-130 dan Masalah Perawatan Alutsista
Selasa kemarin, 30
Juni 2015, Indonesia dikejutkan oleh jatuhnya sebuah pesawat angkut personel
berjenis Hercules C-130 di tengah kota Medan. Kecelakaan ini menelan korban lebih dari 100
orang, baik sipil dan militer. Banyak orang, kemudian, mengaitkan ini dengan
kondisi pesawat tersebut yang telah berumur tua. Menurut berita, Hercules yang
jatuh ini merupakan produksi tahun 60an. Artinya, saat
mengalami kecelakaan, pesawat tersebut telah berumur separuh abad. Lalu, solusi
yang digulirkan adalah Indonesia harus menghentikan pembelian atau menerima
hibah mesin-mesin perang tua atau bekas. Saya SETUJU (bahkan sangat setuju) jika
Indonesia memilih membeli mesin-mesin perang baru daripada membeli atau
menerima hibah mesin-mesin perang tua.
Namun,
menempatkan 'kondisi sudah tua' sebagai penyebab kecelakaan sebuah mesin perang
bukan hal yang sepenuhnya tepat juga. Karena kelaikan sebuah mesin perang
ditentukan oleh perawatannya. Jika perawatannya baik, mesin perang tua pun bisa
berfungsi dengan baik. Sebaliknya, jika perawatannya buruk, mesin perang baru
pun akan cepat rusak.
Monday, October 06, 2014
Tiongkok dan Konstruksi Kepemilikannya atas Laut Tiongkok Selatan
Tuesday, September 09, 2014
Memahami Poros Maritim Dunia
Poros maritim dunia merupakan doktrin
politik luar negeri yang ditawarkan oleh Jokowi sebagai alternatif atas doktrin politik luar negeri a million friends, zero enemy milik Susilo Bambang Yudhoyono.
Pada masa-masa kampanye pemilihan presiden
doktrin poros maritim dunia ini kurang terelaborasi dengan baik walaupun setelah
diumumkan ke publik langsung mengundang perdebatan, terutama di kalangan
pemerhati hubungan internasional.
Definisi dan penjelasan yang lebih lengkap
tentang doktrin ini baru muncul setelah pemilihan presiden selesai, khususnya
melalui 2 artikel yang ditulis masing-masing oleh Muradi (pengajar di
Universitas Padjadjaran, Bandung) dan Rizal Sukma (direktur eksekutif CSIS,
Jakarta).
Saturday, March 29, 2014
Budaya Tionghoa dan Posisi Taiwan dalam Masyarakat Indonesia
Dari tahun ke
tahun kita melihat perkembangan yang makin positif atas pluralisme di
Indonesia. Salah satunya adalah penerimaan masyarakat yang makin kuat terhadap
simbol-simbol kebudayaan Tionghoa. Penerimaan hangat itu terlihat antara lain
pada saat perayaan Tahun Baru Imlek,
seperti yang baru saja berlalu.
Pada periode
perayaan di atas biasanya pusat-pusat perbelanjaan, restoran, ataupun
tempat-tempat publik lainnya, dihiasi dengan ucapan selamat Tahun Baru Imlek. Simbol-simbol yang identik dengan kebudayaan
Tionghoa pun bertebaran. Ucapan dan berbagai hiasan yang menyimbolkan
ketionghoaan itu tidak hanya hadir di ruang-ruang tertutup (indoor), melainkan juga di ruang publik, seperti di pinggir jalan
raya berupa spanduk-spanduk.
Perkembangan
positif ini tentu saja membuat Tiongkok sebagai negara makin diterima oleh
masyarakat Indonesia. Namun apakah penerimaan yang sama juga berlaku bagi
Taiwan, sebuah wilayah yang sejak tahun 1949 dipimpin oleh para pemimpin Partai
Nasionalis Tiongkok (guomindang)? Apakah perkembangan positif di atas membuat
Taiwan makin dikenal oleh masyarakat Indonesia? Hal inilah yang akan dibahas
dalam tulisan singkat ini.
Monday, November 18, 2013
Skandal Penyadapan dan Keuntungan Bagi Tiongkok
Terbongkarnya aktivitas penyadapan yang
dilakukan Amerika Serikat dan Australia terhadap sejumlah negara di Asia (Kamboja,
Thailand, Indonesia, Myanmar, Malaysia, dan Tiongkok) telah membuat hubungan AS
dan Australia terhadap negara-negara tersebut memburuk. Indonesia, Malaysia dan Tiongkok bereaksi dengan
memanggil duta besar AS dan Australia untuk memberikan penjelasan atas aksi
penyadapan tersebut. Indonesia bahkan bersikap keras terhadap Australia.
Sunday, October 20, 2013
Cina, China atau Tiongkok?
Tulisan ini terinspirasi oleh berita ini
dan artikel di blog ini, dimana keduanya mempermasalahkan bagaimana kita, orang
Indonesia, harus menyebut Kerajaan Tengah (中国 atau Middle Kingdom) di Utara
sana. Persoalan penyebutan ini bermula dari keberatan yang disampaikan oleh
Kerajaan Tengah tersebut atas penggunaan kata ‘Cina’ dalam penyebutan nama
negara tersebut. Bagi mereka istilah Cina dipandang rasis karena berkait dengan
sikap diskriminatif atas etnis Cina atau Tionghoa di Indonesia.
Friday, October 18, 2013
Minimnya Inovasi sebagai Kendala Modernisasi Senjata TNI
Si vis pacem para bellum
merupakan “doktrin” penting di dalam hubungan antar negara di sistem
internasional. “doktrin” ini menyatakan bahwa untuk menciptakan perdamaian
(atau keamanan) setiap Negara harus mempersiapkan kekuatan militer setangguh
mungkin. Penguasaan senjata terbaik merupakan syarat utama pembangunan kekuatan
militer tersebut.
Sebagai sebuah
negara, Indonesia tentunya juga harus mengikuti “doktrin” tersebut. Dengan kata
lain, untuk menciptakan perdamaian di kawasan dan mengamankan wilayah
yurisdiksi Indonesia dari berbagai ancaman Indonesia harus membangun kekuatan
militer yang tangguh. Modernisasi persenjataan TNI harus dilakukan secara
berkesinambungan. Sayangnya, modernisasi ini tidak bisa berjalan maksimal.
Modernisasi persenjataan berjalan tersendat-sendat. Kendala keuangan merupakan
alasan yang digunakan pemerintah untuk menjelaskan tersendatnya modernisasi
persenjataan Indonesia.
Sunday, July 21, 2013
Perjanjian Perdagangan Senjata: Dilema Indonesia
Pada April 2013 yang lalu, Sidang Umum PBB akhirnya menyetujui naskah Perjanjian Perdagangan Senjata (ATT). Namun persetujuan tersebut tidak diperoleh secara bulat karena hanya 154 yang memberikan dukungan. Iran, Korea Utara dan Suriah menolak naskah tersebut. Sementara, 23 negara lainnya menyatakan abstain. Negara-negara tersebut adalah Angola, Bahrain, Belarus, Bolivia, China, Kuba, Ekuador, Mesir, Fiji, India, Indonesia, Kuwait, Laos, Myanmar, Nikaragua, Oman, Qatar, Russia, Saudi Arabia, Sri Lanka, Sudan, Swaziland, dan Yaman.
Sebagaimana telah disebut di atas, Indonesia merupakan salah satu negara yang mengambil posisi abstain di sidang umum tersebut. Alasan yang dikemukakan oleh pemerintah atas posisi tersebut adalah Indonesia tidak menginginkan adanya kondisionalitas politik yang membatasi perdagangan senjata sehingga dapat merugikan kepentingan Indonesia.
Friday, June 08, 2012
Membangun 'Indonesian School' of IR: Sebuah Catatan
Dalam beberapa bulan terakhir ini,
semangat untuk membangun apa yang disebut sebagai ‘Indonesian School’ of IR tampak
kembali menggeliat. Salah satu kampus swasta di Jakarta bahkan tampak intens
membangun diskusi mengenai mimpi besar ini.
Merespon semangat tersebut beberapa waktu
yang lalu Evan A. Laksmana menulis di blognya tentang 6 hal yang perlu menjadi
perhatian serius bagi siapa saja yang berkeinginan membangun ‘Indonesian School’
of IR. Hal yang sama juga ingin dilakukan oleh tulisan ini. Namun, jika Evan melihat dari perspektif mikro, tulisan ini
akan mencoba melihat persoalan membangun ‘Indonesian School’ of IR tersebut dari
perspektif makro.
Subscribe to:
Posts (Atom)