Terbongkarnya aktivitas penyadapan yang
dilakukan Amerika Serikat dan Australia terhadap sejumlah negara di Asia (Kamboja,
Thailand, Indonesia, Myanmar, Malaysia, dan Tiongkok) telah membuat hubungan AS
dan Australia terhadap negara-negara tersebut memburuk. Indonesia, Malaysia dan Tiongkok bereaksi dengan
memanggil duta besar AS dan Australia untuk memberikan penjelasan atas aksi
penyadapan tersebut. Indonesia bahkan bersikap keras terhadap Australia.
Jika diperhatikan, secara strategis, sekalipun
ikut menjadi korban, terbongkarnya aksi penyadapan ini menguntungkan Tiongkok. Karena
sebagian dari negara-negara yang menjadi
korban penyadapan tersebut merupakan mitra potensial AS untuk mengimbangi
kekuatan Tiongkok di Asia-Pasifik dan AS selama ini telah berusaha keras mengajak
mereka untuk mendukung kebijakan “pivot to Asia”. Skandal ini pasti akan mengganggu
kebijakan perimbangan kekuatan AS tersebut. Paling tidak, skandal ini akan
menghambat laju kerjasama yang sudah terbentuk ataupun yang sedang dalam proses
pembentukan.
Reaksi keras Indonesia terhadap Australia
merupakan contoh yang dapat dikemukakan di sini. Terbongkarnya dokumen yang menjelaskan
dengan cukup detil siapa-siapa saja yang menjadi korban penyadapan Australia di
Indonesia telah mendorong Indonesia untuk memanggil pulang duta besarnya di Australia. Selain itu, Indonesia juga menyatakan akan meninjau ulang kerjasama
dengan Australia yang selama ini telah berjalan. Perkembangan ini menyebabkan
hubungan dan kerjasama Indonesia dan Australia yang cukup hangat selama ini
memanas dan mengganggu kerjasama yang selama ini sudah berjalan dan akan berjalan. Padahal hubungan dan kerjasama tersebut bernilai strategis karena berkepentingan
untuk mengimbangi kehadiran Tiongkok dan menjaga stabilitas di kawasan.
wendy prajuli
*Gambar milik ABC
No comments:
Post a Comment