"A lot of people think international relations is like a game of chess. But it's not a game of chess, where people sit quietly, thinking out their strategy, taking their time between moves. It's more like a game of billiards, with a bunch of balls clustered together."
Madeleine Albright
Security is the foundation on which peace and prosperity is built. Without it, no nation can plan and build its future. Defense is commitment to the future.
Showing posts with label asia tenggara. Show all posts
Showing posts with label asia tenggara. Show all posts

Friday, September 11, 2015

Between fear and hope on Japan’s new defence policy

Authors: Wendy Prajuli & Nur Alia Pariwita

The Japanese lower house has approved bills to revise Japan’s security architecture, bringing longstanding debates about Prime Minister Shinzo Abe’s proposal on collective self-defence to a head.

The security legislation has met widespread opposition within Japan. In June 2014, for example, a man self-immolated in Tokyo to protest Japan’s proposed collective self-defence policy. But, despite such strong opposition from members of the Japanese public, Abe has obtained the support of the lower house. He now only needs approval from the upper house to pass the bills into law.

Wednesday, July 01, 2015

Kecelakaan Hercules C-130 dan Masalah Perawatan Alutsista

Selasa kemarin, 30 Juni 2015, Indonesia dikejutkan oleh jatuhnya sebuah pesawat angkut personel berjenis Hercules C-130 di tengah kota Medan. Kecelakaan ini menelan korban lebih dari 100 orang, baik sipil dan militer. Banyak orang, kemudian, mengaitkan ini dengan kondisi pesawat tersebut yang telah berumur tua. Menurut berita, Hercules yang jatuh ini merupakan produksi tahun 60an. Artinya, saat mengalami kecelakaan, pesawat tersebut telah berumur separuh abad. Lalu, solusi yang digulirkan adalah Indonesia harus menghentikan pembelian atau menerima hibah mesin-mesin perang tua atau bekas. Saya SETUJU (bahkan sangat setuju) jika Indonesia memilih membeli mesin-mesin perang baru daripada membeli atau menerima hibah mesin-mesin perang tua.

Namun, menempatkan 'kondisi sudah tua' sebagai penyebab kecelakaan sebuah mesin perang bukan hal yang sepenuhnya tepat juga. Karena kelaikan sebuah mesin perang ditentukan oleh perawatannya. Jika perawatannya baik, mesin perang tua pun bisa berfungsi dengan baik. Sebaliknya, jika perawatannya buruk, mesin perang baru pun akan cepat rusak.

Monday, October 06, 2014

Tiongkok dan Konstruksi Kepemilikannya atas Laut Tiongkok Selatan

Laut Tiongkok Selatan merupakan sebuah kawasan perairan yang berbatasan langsung dengan beberapa negara Asia. Di utara perairan ini berbatasan dengan Tiongkok dan Taiwan. Sementara di selatan berbatasan dengan Indonesia, Malaysia (Serawak), dan Brunei. Di Barat berbatasan dengan Vietnam dan di Timur berbatasan dengan Filipina. Kawasan ini merupakan wilayah perairan terpanas di Asia-Pasifik karena melibatkan 6 negara Asia: Tiongkok, Taiwan, Vietnam, Filipina, Malaysia, dan Brunei. Di antara 6 negara tersebut Tiongkok merupakan negara yang paling aktif membangun konstruksi sosial atas klaim kepemilikan di Laut Tiongkok Selatan.

Tuesday, September 09, 2014

Memahami Poros Maritim Dunia

Poros maritim dunia merupakan doktrin politik luar negeri yang ditawarkan oleh Jokowi sebagai alternatif atas doktrin politik luar negeri a million friends, zero enemy milik Susilo Bambang Yudhoyono.

Pada masa-masa kampanye pemilihan presiden doktrin poros maritim dunia ini kurang terelaborasi dengan baik walaupun setelah diumumkan ke publik langsung mengundang perdebatan, terutama di kalangan pemerhati hubungan internasional.

Definisi dan penjelasan yang lebih lengkap tentang doktrin ini baru muncul setelah pemilihan presiden selesai, khususnya melalui 2 artikel yang ditulis masing-masing oleh Muradi (pengajar di Universitas Padjadjaran, Bandung) dan Rizal Sukma (direktur eksekutif CSIS, Jakarta).


Saturday, March 29, 2014

Budaya Tionghoa dan Posisi Taiwan dalam Masyarakat Indonesia

Dari tahun ke tahun kita melihat perkembangan yang makin positif atas pluralisme di Indonesia. Salah satunya adalah penerimaan masyarakat yang makin kuat terhadap simbol-simbol kebudayaan Tionghoa. Penerimaan hangat itu terlihat antara lain pada saat  perayaan Tahun Baru Imlek, seperti yang baru saja berlalu.

Pada periode perayaan di atas biasanya pusat-pusat perbelanjaan, restoran, ataupun tempat-tempat publik lainnya, dihiasi dengan ucapan selamat Tahun Baru Imlek.  Simbol-simbol yang identik dengan kebudayaan Tionghoa pun bertebaran. Ucapan dan berbagai hiasan yang menyimbolkan ketionghoaan itu tidak hanya hadir di ruang-ruang tertutup (indoor), melainkan juga di ruang publik, seperti di pinggir jalan raya berupa spanduk-spanduk.

Perkembangan positif ini tentu saja membuat Tiongkok sebagai negara makin diterima oleh masyarakat Indonesia. Namun apakah penerimaan yang sama juga berlaku bagi Taiwan, sebuah wilayah yang sejak tahun 1949 dipimpin oleh para pemimpin Partai Nasionalis Tiongkok (guomindang)? Apakah perkembangan positif di atas membuat Taiwan makin dikenal oleh masyarakat Indonesia? Hal inilah yang akan dibahas dalam tulisan singkat ini.

Monday, November 18, 2013

Skandal Penyadapan dan Keuntungan Bagi Tiongkok

Terbongkarnya aktivitas penyadapan yang dilakukan Amerika Serikat dan Australia terhadap sejumlah negara di Asia (Kamboja, Thailand, Indonesia, Myanmar, Malaysia, dan Tiongkok) telah membuat hubungan AS dan Australia terhadap negara-negara tersebut memburuk.  Indonesia, Malaysia dan Tiongkok bereaksi dengan memanggil duta besar AS dan Australia untuk memberikan penjelasan atas aksi penyadapan tersebut. Indonesia bahkan bersikap keras terhadap Australia.

Tuesday, August 21, 2012

ASEAN dan Konsensus: Masihkah Sejalan?


Prinsip konsensus bersama-sama dengan prinsip non-intervensi merupakan dua prinsip dasar yang selalu digaung-gaungkan oleh ASEAN sebagai keunikan ASEAN. Di dalam prinsip konsensus ini segala keputusan yang akan diambil oleh ASEAN diputuskan secara musyawarah dan mufakat.

Sejak ASEAN didirikan pada 8 Agustus 1967 prinsip konsensus ini selalu mewadahi setiap keputusan yang dibuat oleh ASEAN. Namun pada pertemuan menteri-menteri luar negeri ASEAN yang ke 45 di Phnom Penh, Kamboja yang lalu catatan tersebut luruh. Untuk pertama kalinya ASEAN gagal mencapai konsensus dalam menyikapi konflik di laut Cina Selatan.  Intervensi negara besar (major power), khususnya Cina, telah meruntuhkan catatan ASEAN yang membanggakan tersebut.

Sunday, April 15, 2012

Apakah Cina Makin Asertif di Laut Cina Selatan?

“Is China Becoming More Assertive in the South China Sea?” merupakan salah satu sub-judul dari tulisan M. Taylor Fravel  berjudul MaritimeSecurity in the South China Sea and the Competition over Maritime Rights yang dimuat di sebuah laporan berjudul Cooperation from Strength: The United States, China and the South China Sea yang diterbitkan oleh Center for New American Security, sebuah lembaga penelitian di Washington DC.

Wednesday, August 13, 2008

Akankah ASEAN Charter Berhasil: Refleksi Melalui Konflik Thailand-Kamboja

Perkembangan terakhir konflik Kamboja-Thailand adalah sikap Thailand yang menolak intervensi pihak ketiga, dalam hal ini ASEAN, di dalam penyelesaian konflik perbatasan. Sikap Thailand ini dapat memberikan gambaran apa yang sesungguhnya terjadi di kawasan Asia Tenggara, khususnya di dalam tubuh negara-negara anggota ASEAN. Dimana pada akhirnya fenomena tersebut dapat menjelaskan mengapa upaya kerjasama ASEAN yang lebih erat sulit untuk dijalankan.


Thursday, July 24, 2008

Apa Yang Dapat Dipelajari dari Konflik Kamboja-Thailand?

Perkembangan terakhir konflik Kamboja-Thailand adalah sikap Thailand yang menolak intervensi pihak ketiga, dalam hal ini ASEAN, di dalam penyelesaian konflik. Sikap Thailand ini menunjukan bahwa prinsip non-intervensi masih tertanam kuat di dalam benak negara-negara anggota ASEAN.

Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa masih tidak mudah bagi ASEAN untuk mewujudkan mimpi mengintegrasikan negara-negara anggotanya ke dalam kerjasama multilateral yang lebih erat meskipun telah mengeluarkan sejumlah kebijakan yang mendukung, seperti penyusunan Piagam ASEAN (ASEAN Charter).

Perspektif Realis hingga saat ini masih menjadi pendekatan dominan di dalam interaksi antar negara-negara anggota ASEAN. Hal ini berbeda dengan kasus Eropa dimana negara-negara di kawasan tersebut cenderung lebih berperspektif Liberalis, sehingga memudahkan bagi terbentuk kerjasama multilateral yang lebih erat (regionalisme).

wendy a. prajuli

Monday, June 11, 2007

Cina, Stabilitas Asia Timur dan Indonesia

Di akhir 2006 ini Cina mengeluarkan laporan pertahanan yang menyatakan pengembangan kekuatan laut dan udara merupakan prioritas pertahanan militer Cina. Ini merupakan bagian dari rencana besar Cina memodernisasi kekuatan militernya.

Paradigma Militer Baru Cina
Modernisasi militer Cina telah dimulai sejak 1985 dengan berubahnya paradigma militer Cina. Perubahan paradigma militer ini adalah bagian dari perubahan paradigma yang lebih besar yang terjadi di Cina, yaitu perubahan dari Internasionalisme-Revolusioner (IR) yang bersandar pada perjuangan kelas menuju Nasionalisme-Konservatif (NK) yang bersandar pada negara-bangsa (Nan Li, 2001).


Thursday, November 23, 2006

Apa Salahnya Bergandengan-tangan Dengan Amerika Serikat?

Menjelang dan saat kedatangan George W. Bush ke Indonesia 20 November lalu, suasana politik domestik tampak memanas dengan beragam penolakan dan tuntutan untuk mengakhiri hubungan diplomatik dengan AS. Beragam penolakan dan tuntutan ini tampaknya lebih dipengaruhi oleh faktor emosional dibandingkan kalkulasi rasional, karena ada sejumlah faktor yang harus diperhatikan sebelum memutuskan untuk menolak dan mengakhiri hubungan dengan AS.