"A lot of people think international relations is like a game of chess. But it's not a game of chess, where people sit quietly, thinking out their strategy, taking their time between moves. It's more like a game of billiards, with a bunch of balls clustered together."
Madeleine Albright
Security is the foundation on which peace and prosperity is built. Without it, no nation can plan and build its future. Defense is commitment to the future.
Showing posts with label asia-pasifik. Show all posts
Showing posts with label asia-pasifik. Show all posts

Friday, September 11, 2015

Between fear and hope on Japan’s new defence policy

Authors: Wendy Prajuli & Nur Alia Pariwita

The Japanese lower house has approved bills to revise Japan’s security architecture, bringing longstanding debates about Prime Minister Shinzo Abe’s proposal on collective self-defence to a head.

The security legislation has met widespread opposition within Japan. In June 2014, for example, a man self-immolated in Tokyo to protest Japan’s proposed collective self-defence policy. But, despite such strong opposition from members of the Japanese public, Abe has obtained the support of the lower house. He now only needs approval from the upper house to pass the bills into law.

Monday, October 06, 2014

Tiongkok dan Konstruksi Kepemilikannya atas Laut Tiongkok Selatan

Laut Tiongkok Selatan merupakan sebuah kawasan perairan yang berbatasan langsung dengan beberapa negara Asia. Di utara perairan ini berbatasan dengan Tiongkok dan Taiwan. Sementara di selatan berbatasan dengan Indonesia, Malaysia (Serawak), dan Brunei. Di Barat berbatasan dengan Vietnam dan di Timur berbatasan dengan Filipina. Kawasan ini merupakan wilayah perairan terpanas di Asia-Pasifik karena melibatkan 6 negara Asia: Tiongkok, Taiwan, Vietnam, Filipina, Malaysia, dan Brunei. Di antara 6 negara tersebut Tiongkok merupakan negara yang paling aktif membangun konstruksi sosial atas klaim kepemilikan di Laut Tiongkok Selatan.

Thursday, August 07, 2014

Mengapa Tiongkok Makin Berani dan Agresif di Dunia Internasional?

Salah satu yang menarik dalam melihat perkembangan Tiongkok adalah sikapnya yang makin berani dan agresif di berbagai forum internasional. Keberanian dan agresivitas ini tampak jelas, sebagai contoh, di konflik Laut Tiongkok Selatan (LTS) dan pertemuan terakhir Shangri-La Dialogue bulan Mei lalu di Singapura.

Keberanian dan agresivitas Tiongkok ini mengundang pertanyaan dari banyak orang. Pertanyaan terbanyak adalah mengapa Tiongkok makin berani dan agresif di dunia internasional.  Untuk menjawab pertanyaan tersebut paling tidak ada 3 faktor yg dapat dikemukakan.


Monday, November 18, 2013

Skandal Penyadapan dan Keuntungan Bagi Tiongkok

Terbongkarnya aktivitas penyadapan yang dilakukan Amerika Serikat dan Australia terhadap sejumlah negara di Asia (Kamboja, Thailand, Indonesia, Myanmar, Malaysia, dan Tiongkok) telah membuat hubungan AS dan Australia terhadap negara-negara tersebut memburuk.  Indonesia, Malaysia dan Tiongkok bereaksi dengan memanggil duta besar AS dan Australia untuk memberikan penjelasan atas aksi penyadapan tersebut. Indonesia bahkan bersikap keras terhadap Australia.

Thursday, April 11, 2013

Beberapa Pertanyaan atas Melambatnya Perekonomian Cina

Pada saat membuka Forum Boao beberapa hari yang lalu Presiden Cina, Xi Jinping, menyatakan bahwa era pertumbuhan ekonomi Cina yang sangat tinggi telah berlalu, walaupun masih berada di level yang tinggi. Ada dua alasan yang dikemukakan Xi terkait dengan perlambatan ekonomi tersebut.

Tuesday, February 19, 2013

Implikasi Regional Peningkatan Hubungan Rusia dan Cina


Dua hari yang lalu Global Times menurunkan berita tentang rencana Xi Jinping untuk mengunjungi Rusia dan Afrika Selatan sebagai kunjungan perdanya sebagai Presiden Cina pasca pelantikan di bulan Maret nanti. Rencana ini mengundang pertanyaan mengapa bukan Amerika Serikat sebagai tujuan lawatan pertama Xi. Apalagi mengingat hubungan Cina dan Amerika Serikat yang makin kompetitif di Asia-Pasifik.

Tuesday, August 21, 2012

ASEAN dan Konsensus: Masihkah Sejalan?


Prinsip konsensus bersama-sama dengan prinsip non-intervensi merupakan dua prinsip dasar yang selalu digaung-gaungkan oleh ASEAN sebagai keunikan ASEAN. Di dalam prinsip konsensus ini segala keputusan yang akan diambil oleh ASEAN diputuskan secara musyawarah dan mufakat.

Sejak ASEAN didirikan pada 8 Agustus 1967 prinsip konsensus ini selalu mewadahi setiap keputusan yang dibuat oleh ASEAN. Namun pada pertemuan menteri-menteri luar negeri ASEAN yang ke 45 di Phnom Penh, Kamboja yang lalu catatan tersebut luruh. Untuk pertama kalinya ASEAN gagal mencapai konsensus dalam menyikapi konflik di laut Cina Selatan.  Intervensi negara besar (major power), khususnya Cina, telah meruntuhkan catatan ASEAN yang membanggakan tersebut.

Sunday, April 15, 2012

Apakah Cina Makin Asertif di Laut Cina Selatan?

“Is China Becoming More Assertive in the South China Sea?” merupakan salah satu sub-judul dari tulisan M. Taylor Fravel  berjudul MaritimeSecurity in the South China Sea and the Competition over Maritime Rights yang dimuat di sebuah laporan berjudul Cooperation from Strength: The United States, China and the South China Sea yang diterbitkan oleh Center for New American Security, sebuah lembaga penelitian di Washington DC.

Sunday, January 15, 2012

Hasil Pemilu Taiwan Untungkan Amerika Serikat

Ma Ying-jeou kembali memenangi pemilu nasional di Taiwan. Kemenangan ini hanya selisih tipis dari pesaingnya, Tsai Ing-wen. Ma dan KMT (Kuomintang) merebut 51.6% suara. Sementara Tsai dan DPP (Democratic Progressive Party) meraih 45.6% suara.

Kemenangan KMT merupakan pertanda berlanjutnya stabilitas keamanan di selat Taiwan yang telah dibangun oleh KMT sejak 5 tahun yang lalu melalui kebijakan “peredaan ketegangan dengan Cina.” Kemenangan ini merupakan sebuah keuntungan bagi negara-negara di Asia-Pasifik, khususnya Amerika Serikat.

Tuesday, November 15, 2011

Amerika Serikat Ingin Pangkalan Militer di Australia, Mengapa?

Dalam waktu dekat, Amerika Serikat (AS) akan menandatangani kesepakatan yang akan memberikan akses “permanen dan konstan” atas pangkalan militer Australia kepada angkatan laut AS. Dari sisi AS, ada 2 alasan yang dapat dikemukakan terkait dengan kesepakatan tersebut.


Tuesday, October 18, 2011

AS Seharusnya Jual F-16C/D ke Taiwan

Demi kepentingan strategisnya, pemerintah Taiwan telah sejak lama menaruh minat untuk membeli 66 unit pesawat tempur canggih F-16C/D dari Amerika Serikat (AS). Pembelian ini merupakan bagian dari rencana modernisasi untuk mengganti pesawat tempur tua F-5 dan Mirage 2000. Pada tahun 2006 pemerintah AS telah menolak keinginan Taiwan tersebut. Keengganan yang ditunjukan oleh pemerintah AS ini tidak terlepas dari penolakan Cina atas kebijakan penjualan senjata AS kepada Taiwan.

Keinginan Taiwan ini kini telah disetujui oleh kongres AS. Namun, pemerintah AS bersikap sebaliknya. Pemerintah AS hanya memberikan kesempatan kepada Taiwan untuk melakukan upgrade F-16A/B milik mereka. Sikap ini dipercaya dipengaruhi oleh penolakan Cina dan kemungkinan terjadinya ketegangan di selat Taiwan akibat penjualan tersebut.

Sunday, June 06, 2010

Extending China’s Joint Military Exercise in East Asia

This article tries to suggest a policy recommendation for China in reducing the fear of PLA (People Liberation Army) modernization in the East Asia region. The article will start with the explanation of PLA modernization. Then it continues to describe China threat perception in the East Asia region. Finally, it will recommend China to extend its joint military exercises with all countries in the East Asia to reduce anxiety over PLA modernization and China rises.


Friday, June 05, 2009

Mengatur Pergerakan Militer di Asia Pasifik

Boeing Co. memperkirakan bahwa akan terjadi peningkatan permintaan senjata di Asia-Pasifik. Jenis senjata-senjata tersebut, diantaranya, adalah pesawat tempur, kapal selam serta sistem komando dan kontrol (Kompas, 30 Mei 2009). Fenomena peningkatan permintaan ini sebenarnya telah berjalan sejak akhir perang dingin, dimana negara-negara di kawasan Asia-Pasifik mulai mengubah orientasi pertahanan mereka dari inward looking ke outward looking dengan penguatan pada kekuatan laut dan udara. Di dalam hubungan internasional, fenomena tersebut tidak dapat diremehkan karena akan memberikan implikasi terhadap terhadap sistem internasional yang bersifat anarkis.


Wednesday, August 13, 2008

Akankah ASEAN Charter Berhasil: Refleksi Melalui Konflik Thailand-Kamboja

Perkembangan terakhir konflik Kamboja-Thailand adalah sikap Thailand yang menolak intervensi pihak ketiga, dalam hal ini ASEAN, di dalam penyelesaian konflik perbatasan. Sikap Thailand ini dapat memberikan gambaran apa yang sesungguhnya terjadi di kawasan Asia Tenggara, khususnya di dalam tubuh negara-negara anggota ASEAN. Dimana pada akhirnya fenomena tersebut dapat menjelaskan mengapa upaya kerjasama ASEAN yang lebih erat sulit untuk dijalankan.


Thursday, July 24, 2008

Apa Yang Dapat Dipelajari dari Konflik Kamboja-Thailand?

Perkembangan terakhir konflik Kamboja-Thailand adalah sikap Thailand yang menolak intervensi pihak ketiga, dalam hal ini ASEAN, di dalam penyelesaian konflik. Sikap Thailand ini menunjukan bahwa prinsip non-intervensi masih tertanam kuat di dalam benak negara-negara anggota ASEAN.

Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa masih tidak mudah bagi ASEAN untuk mewujudkan mimpi mengintegrasikan negara-negara anggotanya ke dalam kerjasama multilateral yang lebih erat meskipun telah mengeluarkan sejumlah kebijakan yang mendukung, seperti penyusunan Piagam ASEAN (ASEAN Charter).

Perspektif Realis hingga saat ini masih menjadi pendekatan dominan di dalam interaksi antar negara-negara anggota ASEAN. Hal ini berbeda dengan kasus Eropa dimana negara-negara di kawasan tersebut cenderung lebih berperspektif Liberalis, sehingga memudahkan bagi terbentuk kerjasama multilateral yang lebih erat (regionalisme).

wendy a. prajuli

Wednesday, May 21, 2008

Ketika Naga dan Samurai Bertemu

Lawatan Hu Jintao ke Jepang beberapa waktu yang lalu dipandang sebagai tonggak historis menuju hubungan baru Jepang-Cina. Sejumlah optimisme akan lahirnya hubungan Jepang-Cina yang makin harmonis dilontarkan dalam menilai lawatan tersebut. Namun, sebenarnya masih terlalu dini untuk memberikan optimisme pada pertemuan tersebut karena ada sejumlah faktor yang dapat menghambat munculnya hubungan Jepang-Cina yang harmonis di kemudian hari.


Thursday, March 20, 2008

Persepsi Amerika Serikat Atas Modernisasi Sistem Pertahanan Cina (2004-2005)

Di dalam dinamika kawasan Asia-Pasifik, Cina memainkan peran yang penting. Tidak hanya di masa sekarang namun juga pada masa-masa yang lampau. Kekaisaran Cina memberikan pengaruh yang besar terhadap kerajaan-kerajaan di kawasan Asia. Hal ini dapat dibuktikan melalui pengiriman upeti yang dilakukan sejumlah kerajaan-kerajaan di wilayah Asia tenggara ke Cina untuk mengamankan wilayah kekuasaan dan perdagangannya.


Monday, November 05, 2007

Keamanan Energi dan Potensi Perlombaan Senjata

Naiknya harga minyak hingga hampir mencapai US$100 per barel telah menyebabkan kelangkaan pasokan di sejumlah negara sehingga melahirkan kekhawatiran terjadinya gejolak sosial-politik. Kenaikan ini dipicu oleh ketidakstabilan politik dan keamanan di Timur-tengah, selain karena memang terjadi peningkatan permintaan minyak dunia, khususnya di Cina dan India.

Sulit untuk memperkirakan bahwa harga minyak ini akan cepat turun karena situasi politik di Timur-tengah saat ini tidak menunjukan tanda-tanda penurunan eskalasi. Selain itu, sejumlah negara di belahan utara dan selatan pun mulai memasuki awal musim dingin, yang tentunya akan mengonsumsi minyak lebih besar.


Apakah Misi Angkatan Laut yang Berakhir akan Mengancam Aliansi Jepang-AS?

Misi angkatan laut Jepang dalam mendukung perang menghadapi terorisme di Afghanistan telah berakhir dengan ditariknya dua kapal AL Jepang oleh Menhan Jepang, Shigeru Ishiba. Penghentian misi ini merupakan hasil dari penolakan Majelis Tinggi yang dikuasai oleh DPJ atas perpanjangan UU Antiterorisme yang masa berlakunya berakhir tanggal 1 November 2007. Kebijakan Jepang tersebut mengundang kekecewaan dari AS dan sekutu-sekutunya namun sangat sulit untuk mengatakan bahwa kebijakan tersebut akan mengancam aliansi strategis Jepang-AS yang telah dibangun bertahun-tahun.


Monday, June 11, 2007

Cina, Stabilitas Asia Timur dan Indonesia

Di akhir 2006 ini Cina mengeluarkan laporan pertahanan yang menyatakan pengembangan kekuatan laut dan udara merupakan prioritas pertahanan militer Cina. Ini merupakan bagian dari rencana besar Cina memodernisasi kekuatan militernya.

Paradigma Militer Baru Cina
Modernisasi militer Cina telah dimulai sejak 1985 dengan berubahnya paradigma militer Cina. Perubahan paradigma militer ini adalah bagian dari perubahan paradigma yang lebih besar yang terjadi di Cina, yaitu perubahan dari Internasionalisme-Revolusioner (IR) yang bersandar pada perjuangan kelas menuju Nasionalisme-Konservatif (NK) yang bersandar pada negara-bangsa (Nan Li, 2001).