Keberanian dan agresivitas Tiongkok ini
mengundang pertanyaan dari banyak orang. Pertanyaan terbanyak adalah mengapa
Tiongkok makin berani dan agresif di dunia internasional. Untuk menjawab pertanyaan tersebut paling
tidak ada 3 faktor yg dapat dikemukakan.
Pertama, selama ini banyak orang memandang bahwa Tiongkok merupakan negara yg mencintai perdamaian (pacifis) dan keselarasan. Pandangan ini bersumber dari interpretasi atas ajaran-ajaran Konfusius. Pandangan ini tidak salah, tapi tidak lengkap. Konfusius memang mengajarkan perdamaian dan keselarasan hidup. Namun ia juga mengajarkan jika kekerasan atau sikap keras juga diperlukan untuk menjaga moral dan kestabilan sosial. Di sini kekerasan dilihat sebagai alat untuk mendidik, memberikan hukuman dan/atau mengembalikan keadaan ke tempatnya yang benar.
Dengan menggunakan pemahaman di atas, sikap
Tiongkok yang makin berani dan agresif dapat dimengerti sebagai upaya mereka untuk
mendidik negara-negara lain, terutama negara-negara yang selama ini sering kritis
terhadap Tiongkok, untuk berhenti “mengganggu” negara tengah (zhongguo) tersebut.
Kedua, pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang tinggi
dan diikuti oleh pertumbuhan kekuatan militer mereka yang juga signifikan meningkatkan
rasa percaya diri mereka. Rasa percaya diri ini, pada akhirnya, meningkatkan nasionalisme
Tiongkok. Nasionalisme yang menguat ini, misalnya, terlihat dari retorika chinese dream yang disampaikan pertama
kali oleh Xi Jinping di tahun 2012. Saat itu, Xi menyatakan,
"We
must make persistent efforts, press ahead with indomitable will, continue to
push forward the great cause of socialism with Chinese characteristics, and
strive to achieve the Chinese dream of great rejuvenation of the Chinese
nation. To realise the Chinese road, we must spread the Chinese spirit, which
combines the spirit of the nation with patriotism as the core and the spirit of
the time with reform and innovation as the core."
Rasa percaya diri dan semangat nasionalisme
ini mendorong Tiongkok untuk berani, di dalam hubungan internasional, menyuarakan
apa yang dia inginkan dan rasakan.
Ketiga, pada periode 1839 hingga 1949 Tiongkok
memiliki sejarah kelam dalam berinteraksi dengan dunia luar. Periode ini
dikenal dengan sebagai abad penghinaan (century
of humiliation). Pada masa-masa tersebut Tiongkok berada di bawah dominasi berbagai
kekuatan asing yang bergantian menguasai Tiongkok. Dominasi dan intervensi
kekuasaan asing tersebut meninggalkan bekas yang mendalam di masyarakat
Tiongkok. Kini, ketika Tiongkok sedang bangkit kembali dan negara-negara di
sekitarnya bereaksi secara kritis terhadapnya, trauma ini kembali bangkit dan
mempengaruhi sikap Tiongkok terhadap dunia internasional. Tiongkok menjadi “sensitif”
ketika mendapatkan respon kritis dari negara-negara lain, khususnya
negara-negara barat dan Jepang. Sensitivitas inilah yang keluar menjadi sikap
berani dan agresif tadi.
Itulah 3 faktor yang menurut saya mempengaruhi
Tiongkok untuk tampil berani dan agresif di panggung internasional. Keberanian
dan agresivitas yang ditunjukan Tiongkok tersebut secara kontekstual dan
historis dapat dipahami. Namun, di sisi lain sikap tersebut juga membahayakan
Tiongkok dan juga stabilitas di kawasan, khususnya Asia-Pasifik. Dengan demikian,
Tiongkok harus berhati-hati dengan pilihan sikapnya tersebut.
wendy prajuli
*Gambar milik Green Book
No comments:
Post a Comment