"A lot of people think international relations is like a game of chess. But it's not a game of chess, where people sit quietly, thinking out their strategy, taking their time between moves. It's more like a game of billiards, with a bunch of balls clustered together."
Madeleine Albright
Security is the foundation on which peace and prosperity is built. Without it, no nation can plan and build its future. Defense is commitment to the future.

Thursday, August 07, 2014

Mengapa Tiongkok Makin Berani dan Agresif di Dunia Internasional?

Salah satu yang menarik dalam melihat perkembangan Tiongkok adalah sikapnya yang makin berani dan agresif di berbagai forum internasional. Keberanian dan agresivitas ini tampak jelas, sebagai contoh, di konflik Laut Tiongkok Selatan (LTS) dan pertemuan terakhir Shangri-La Dialogue bulan Mei lalu di Singapura.

Keberanian dan agresivitas Tiongkok ini mengundang pertanyaan dari banyak orang. Pertanyaan terbanyak adalah mengapa Tiongkok makin berani dan agresif di dunia internasional.  Untuk menjawab pertanyaan tersebut paling tidak ada 3 faktor yg dapat dikemukakan.


Pertama, selama ini banyak orang memandang bahwa Tiongkok merupakan negara yg mencintai perdamaian (pacifis) dan keselarasan. Pandangan ini bersumber dari interpretasi atas ajaran-ajaran Konfusius. Pandangan ini tidak salah, tapi tidak lengkap. Konfusius memang mengajarkan perdamaian dan keselarasan hidup. Namun ia juga mengajarkan jika kekerasan atau sikap keras juga diperlukan untuk menjaga moral dan kestabilan sosial. Di sini kekerasan dilihat sebagai alat untuk mendidik, memberikan hukuman dan/atau mengembalikan keadaan ke tempatnya yang benar.

Dengan menggunakan pemahaman di atas, sikap Tiongkok yang makin berani dan agresif dapat dimengerti sebagai upaya mereka untuk mendidik negara-negara lain, terutama negara-negara yang selama ini sering kritis terhadap Tiongkok, untuk berhenti “mengganggu” negara tengah (zhongguo) tersebut.

Kedua, pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang tinggi dan diikuti oleh pertumbuhan kekuatan militer mereka yang juga signifikan meningkatkan rasa percaya diri mereka. Rasa percaya diri ini, pada akhirnya, meningkatkan nasionalisme Tiongkok. Nasionalisme yang menguat ini, misalnya, terlihat dari retorika chinese dream yang disampaikan pertama kali oleh Xi Jinping di tahun 2012. Saat itu, Xi menyatakan,

"We must make persistent efforts, press ahead with indomitable will, continue to push forward the great cause of socialism with Chinese characteristics, and strive to achieve the Chinese dream of great rejuvenation of the Chinese nation. To realise the Chinese road, we must spread the Chinese spirit, which combines the spirit of the nation with patriotism as the core and the spirit of the time with reform and innovation as the core."

Rasa percaya diri dan semangat nasionalisme ini mendorong Tiongkok untuk berani, di dalam hubungan internasional, menyuarakan apa yang dia inginkan dan rasakan.

Ketiga, pada periode 1839 hingga 1949 Tiongkok memiliki sejarah kelam dalam berinteraksi dengan dunia luar. Periode ini dikenal dengan sebagai abad penghinaan (century of humiliation). Pada masa-masa tersebut Tiongkok berada di bawah dominasi berbagai kekuatan asing yang bergantian menguasai Tiongkok. Dominasi dan intervensi kekuasaan asing tersebut meninggalkan bekas yang mendalam di masyarakat Tiongkok. Kini, ketika Tiongkok sedang bangkit kembali dan negara-negara di sekitarnya bereaksi secara kritis terhadapnya, trauma ini kembali bangkit dan mempengaruhi sikap Tiongkok terhadap dunia internasional. Tiongkok menjadi “sensitif” ketika mendapatkan respon kritis dari negara-negara lain, khususnya negara-negara barat dan Jepang. Sensitivitas inilah yang keluar menjadi sikap berani dan agresif tadi. 

Itulah 3 faktor yang menurut saya mempengaruhi Tiongkok untuk tampil berani dan agresif di panggung internasional. Keberanian dan agresivitas yang ditunjukan Tiongkok tersebut secara kontekstual dan historis dapat dipahami. Namun, di sisi lain sikap tersebut juga membahayakan Tiongkok dan juga stabilitas di kawasan, khususnya Asia-Pasifik. Dengan demikian, Tiongkok harus berhati-hati dengan pilihan sikapnya tersebut.  

wendy prajuli

*Gambar milik Green Book

No comments:

Post a Comment