"A lot of people think international relations is like a game of chess. But it's not a game of chess, where people sit quietly, thinking out their strategy, taking their time between moves. It's more like a game of billiards, with a bunch of balls clustered together."
Madeleine Albright
Security is the foundation on which peace and prosperity is built. Without it, no nation can plan and build its future. Defense is commitment to the future.
Showing posts with label asia timur. Show all posts
Showing posts with label asia timur. Show all posts

Friday, September 11, 2015

Between fear and hope on Japan’s new defence policy

Authors: Wendy Prajuli & Nur Alia Pariwita

The Japanese lower house has approved bills to revise Japan’s security architecture, bringing longstanding debates about Prime Minister Shinzo Abe’s proposal on collective self-defence to a head.

The security legislation has met widespread opposition within Japan. In June 2014, for example, a man self-immolated in Tokyo to protest Japan’s proposed collective self-defence policy. But, despite such strong opposition from members of the Japanese public, Abe has obtained the support of the lower house. He now only needs approval from the upper house to pass the bills into law.

Thursday, August 07, 2014

Mengapa Tiongkok Makin Berani dan Agresif di Dunia Internasional?

Salah satu yang menarik dalam melihat perkembangan Tiongkok adalah sikapnya yang makin berani dan agresif di berbagai forum internasional. Keberanian dan agresivitas ini tampak jelas, sebagai contoh, di konflik Laut Tiongkok Selatan (LTS) dan pertemuan terakhir Shangri-La Dialogue bulan Mei lalu di Singapura.

Keberanian dan agresivitas Tiongkok ini mengundang pertanyaan dari banyak orang. Pertanyaan terbanyak adalah mengapa Tiongkok makin berani dan agresif di dunia internasional.  Untuk menjawab pertanyaan tersebut paling tidak ada 3 faktor yg dapat dikemukakan.


Saturday, March 29, 2014

Budaya Tionghoa dan Posisi Taiwan dalam Masyarakat Indonesia

Dari tahun ke tahun kita melihat perkembangan yang makin positif atas pluralisme di Indonesia. Salah satunya adalah penerimaan masyarakat yang makin kuat terhadap simbol-simbol kebudayaan Tionghoa. Penerimaan hangat itu terlihat antara lain pada saat  perayaan Tahun Baru Imlek, seperti yang baru saja berlalu.

Pada periode perayaan di atas biasanya pusat-pusat perbelanjaan, restoran, ataupun tempat-tempat publik lainnya, dihiasi dengan ucapan selamat Tahun Baru Imlek.  Simbol-simbol yang identik dengan kebudayaan Tionghoa pun bertebaran. Ucapan dan berbagai hiasan yang menyimbolkan ketionghoaan itu tidak hanya hadir di ruang-ruang tertutup (indoor), melainkan juga di ruang publik, seperti di pinggir jalan raya berupa spanduk-spanduk.

Perkembangan positif ini tentu saja membuat Tiongkok sebagai negara makin diterima oleh masyarakat Indonesia. Namun apakah penerimaan yang sama juga berlaku bagi Taiwan, sebuah wilayah yang sejak tahun 1949 dipimpin oleh para pemimpin Partai Nasionalis Tiongkok (guomindang)? Apakah perkembangan positif di atas membuat Taiwan makin dikenal oleh masyarakat Indonesia? Hal inilah yang akan dibahas dalam tulisan singkat ini.

Thursday, April 11, 2013

Beberapa Pertanyaan atas Melambatnya Perekonomian Cina

Pada saat membuka Forum Boao beberapa hari yang lalu Presiden Cina, Xi Jinping, menyatakan bahwa era pertumbuhan ekonomi Cina yang sangat tinggi telah berlalu, walaupun masih berada di level yang tinggi. Ada dua alasan yang dikemukakan Xi terkait dengan perlambatan ekonomi tersebut.

Sunday, January 15, 2012

Hasil Pemilu Taiwan Untungkan Amerika Serikat

Ma Ying-jeou kembali memenangi pemilu nasional di Taiwan. Kemenangan ini hanya selisih tipis dari pesaingnya, Tsai Ing-wen. Ma dan KMT (Kuomintang) merebut 51.6% suara. Sementara Tsai dan DPP (Democratic Progressive Party) meraih 45.6% suara.

Kemenangan KMT merupakan pertanda berlanjutnya stabilitas keamanan di selat Taiwan yang telah dibangun oleh KMT sejak 5 tahun yang lalu melalui kebijakan “peredaan ketegangan dengan Cina.” Kemenangan ini merupakan sebuah keuntungan bagi negara-negara di Asia-Pasifik, khususnya Amerika Serikat.

Tuesday, October 18, 2011

AS Seharusnya Jual F-16C/D ke Taiwan

Demi kepentingan strategisnya, pemerintah Taiwan telah sejak lama menaruh minat untuk membeli 66 unit pesawat tempur canggih F-16C/D dari Amerika Serikat (AS). Pembelian ini merupakan bagian dari rencana modernisasi untuk mengganti pesawat tempur tua F-5 dan Mirage 2000. Pada tahun 2006 pemerintah AS telah menolak keinginan Taiwan tersebut. Keengganan yang ditunjukan oleh pemerintah AS ini tidak terlepas dari penolakan Cina atas kebijakan penjualan senjata AS kepada Taiwan.

Keinginan Taiwan ini kini telah disetujui oleh kongres AS. Namun, pemerintah AS bersikap sebaliknya. Pemerintah AS hanya memberikan kesempatan kepada Taiwan untuk melakukan upgrade F-16A/B milik mereka. Sikap ini dipercaya dipengaruhi oleh penolakan Cina dan kemungkinan terjadinya ketegangan di selat Taiwan akibat penjualan tersebut.

Sunday, June 06, 2010

Extending China’s Joint Military Exercise in East Asia

This article tries to suggest a policy recommendation for China in reducing the fear of PLA (People Liberation Army) modernization in the East Asia region. The article will start with the explanation of PLA modernization. Then it continues to describe China threat perception in the East Asia region. Finally, it will recommend China to extend its joint military exercises with all countries in the East Asia to reduce anxiety over PLA modernization and China rises.


Wednesday, May 21, 2008

Ketika Naga dan Samurai Bertemu

Lawatan Hu Jintao ke Jepang beberapa waktu yang lalu dipandang sebagai tonggak historis menuju hubungan baru Jepang-Cina. Sejumlah optimisme akan lahirnya hubungan Jepang-Cina yang makin harmonis dilontarkan dalam menilai lawatan tersebut. Namun, sebenarnya masih terlalu dini untuk memberikan optimisme pada pertemuan tersebut karena ada sejumlah faktor yang dapat menghambat munculnya hubungan Jepang-Cina yang harmonis di kemudian hari.


Thursday, March 20, 2008

Persepsi Amerika Serikat Atas Modernisasi Sistem Pertahanan Cina (2004-2005)

Di dalam dinamika kawasan Asia-Pasifik, Cina memainkan peran yang penting. Tidak hanya di masa sekarang namun juga pada masa-masa yang lampau. Kekaisaran Cina memberikan pengaruh yang besar terhadap kerajaan-kerajaan di kawasan Asia. Hal ini dapat dibuktikan melalui pengiriman upeti yang dilakukan sejumlah kerajaan-kerajaan di wilayah Asia tenggara ke Cina untuk mengamankan wilayah kekuasaan dan perdagangannya.


Monday, November 05, 2007

Keamanan Energi dan Potensi Perlombaan Senjata

Naiknya harga minyak hingga hampir mencapai US$100 per barel telah menyebabkan kelangkaan pasokan di sejumlah negara sehingga melahirkan kekhawatiran terjadinya gejolak sosial-politik. Kenaikan ini dipicu oleh ketidakstabilan politik dan keamanan di Timur-tengah, selain karena memang terjadi peningkatan permintaan minyak dunia, khususnya di Cina dan India.

Sulit untuk memperkirakan bahwa harga minyak ini akan cepat turun karena situasi politik di Timur-tengah saat ini tidak menunjukan tanda-tanda penurunan eskalasi. Selain itu, sejumlah negara di belahan utara dan selatan pun mulai memasuki awal musim dingin, yang tentunya akan mengonsumsi minyak lebih besar.


Apakah Misi Angkatan Laut yang Berakhir akan Mengancam Aliansi Jepang-AS?

Misi angkatan laut Jepang dalam mendukung perang menghadapi terorisme di Afghanistan telah berakhir dengan ditariknya dua kapal AL Jepang oleh Menhan Jepang, Shigeru Ishiba. Penghentian misi ini merupakan hasil dari penolakan Majelis Tinggi yang dikuasai oleh DPJ atas perpanjangan UU Antiterorisme yang masa berlakunya berakhir tanggal 1 November 2007. Kebijakan Jepang tersebut mengundang kekecewaan dari AS dan sekutu-sekutunya namun sangat sulit untuk mengatakan bahwa kebijakan tersebut akan mengancam aliansi strategis Jepang-AS yang telah dibangun bertahun-tahun.


Monday, June 11, 2007

Cina, Stabilitas Asia Timur dan Indonesia

Di akhir 2006 ini Cina mengeluarkan laporan pertahanan yang menyatakan pengembangan kekuatan laut dan udara merupakan prioritas pertahanan militer Cina. Ini merupakan bagian dari rencana besar Cina memodernisasi kekuatan militernya.

Paradigma Militer Baru Cina
Modernisasi militer Cina telah dimulai sejak 1985 dengan berubahnya paradigma militer Cina. Perubahan paradigma militer ini adalah bagian dari perubahan paradigma yang lebih besar yang terjadi di Cina, yaitu perubahan dari Internasionalisme-Revolusioner (IR) yang bersandar pada perjuangan kelas menuju Nasionalisme-Konservatif (NK) yang bersandar pada negara-bangsa (Nan Li, 2001).


Friday, May 11, 2007

Amandemen Pasal 9 Konstitusi Jepang, Bukan Jalan Mudah bagi Shinzo Abe

Kamis awal bulan ini Jepang baru saja merayakan 60 tahun umur Konstitusi Jepang. Bagi Jepang, perayaan ulang tahun tersebut memiliki nuansa yang berbeda dari perayaan tahun-tahun sebelumnya. Karena perayaan tahun ini berbarengan dengan keinginan PM Jepang, Shinzo Abe, untuk mengamandemen konstitusi tersebut. Amandemen tersebut terkait dengan pasal 9 dari konstitusi Jepang yang melarang Jepang untuk memiliki kekuatan militer dan mengharuskan Jepang untuk menjalankan kebijakan Pasifisme. Bunyi dari pasal 9 tersebut adalah “aspiring sincerely to an international peace based on justice and order, the Japanese people forever renounce war as a sovereign right of the nation and the threat or use of force as means of settling international disputes…In order to accomplish the aim of the preceding paragraph, land, sea, and air forces, as well as other war potential, will never be maintained. The right of belligerency of the state will not be recognized.” Untuk mengamandemen konstitusi tersebut Abe harus mampu melalui dua tahap mekanisme, pertama, mendapatkan persetujuan Diet untuk melakukan referendum amandemen konstitusi. Selanjutnya, kedua, mendapatkan persetujuan rakyat melalui referendum untuk melakukan amandemen konstitusi.


Thursday, March 08, 2007

Jepang, Destabilisator Kawasan?

Beberapa waktu yang lalu, Jepang resmi memiliki Departemen Pertahanan. Perubahan ini memperlihatkan adanya upaya memperkuat kembali kekuatan militer Jepang setelah dipangkas melalui prinsip Pasifisme. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah ”apakah perubahan tersebut akan membahayakan stabilitas kawasan di Asia Timur?”

Di dalam tulisan ini, pertanyaan tersebut akan dijawab melalui beberapa faktor. Pertama melihat dari intensi Jepang untuk menjadi destabilisator kawasan. Kedua melihat sikap AS terhadap upaya Jepang untuk menjadi negara ”normal” dan ketiga sikap negara-negara Asia Timur terhadap multilateralisme.


Monday, October 16, 2006

Nuklir Korea Utara dan Perimbangan Kekuatan di Asia Timur

Senin kemarin (9 Oktober 2006) Korea Utara berhasil melakukan percobaan nuklir. Keberhasilan tersebut meletakkan Korut sebagai salah satu negara nuklir di dunia setelah AS, Inggris, Perancis, RRC, India, Pakistan dan Rusia.

Ada sejumlah faktor yang dapat digunakan untuk menjelaskan ketertarikan sebuah negara terhadap persenjataan nuklir. Namun, dalam konteks Korea Utara akan digunakan dua faktor untuk menjelaskan ketertarikan tersebut yaitu, kapabilitas kekuatan militer konvensional Korea Utara yang rendah dan kepentingan politis.


Wednesday, September 27, 2006

Jepang dan Asia Timur Pasca Koizumi

Rabu kemarin (20/9/2006) Shinzo Abe terpilih secara telak menjadi Ketua Partai Demokratik Liberal (LDP) mengalahkan Menteri Luar Negeri, Taro Aso dan Menteri Keuangan, Sadakazu Tanigaki. Kemenangan ini memberi jalan bagi Abe untuk menjadi calon terkuat PM Jepang berikutnya. Ini karena 1) Abe mendapat dukungan kuat dari Koizumi; 2) kemenangan telak Abe dalam pemilihan Ketua LDP memperlihatkan dukungan kuat LDP terhadap kepemimpinan Abe; 3) secara empiris, pemimpin LDP selalu berhasil menjadi PM Jepang karena LDP dan koalisinya merupakan mayoritas di Parlemen.

Shinzo Abe merupakan seorang tokoh garis keras di bidang pertahanan Jepang. Hal ini setidaknya terlihat dari janjinya yang akan menaikan status Badan Pertahanan Jepang menjadi Kementerian penuh pada akhir tahun ini jika terpilih menjadi PM. Selain itu ia juga berusaha untuk mengamandemen konstitusi untuk meningkatkan pengaruh militer Jepang di luar negeri.