Rabu kemarin (20/9/2006) Shinzo Abe terpilih secara telak menjadi Ketua Partai Demokratik Liberal (LDP) mengalahkan Menteri Luar Negeri, Taro Aso dan Menteri Keuangan, Sadakazu Tanigaki. Kemenangan ini memberi jalan bagi Abe untuk menjadi calon terkuat PM Jepang berikutnya. Ini karena 1) Abe mendapat dukungan kuat dari Koizumi; 2) kemenangan telak Abe dalam pemilihan Ketua LDP memperlihatkan dukungan kuat LDP terhadap kepemimpinan Abe; 3) secara empiris, pemimpin LDP selalu berhasil menjadi PM Jepang karena LDP dan koalisinya merupakan mayoritas di Parlemen.
Shinzo Abe merupakan seorang tokoh garis keras di bidang pertahanan Jepang. Hal ini setidaknya terlihat dari janjinya yang akan menaikan status Badan Pertahanan Jepang menjadi Kementerian penuh pada akhir tahun ini jika terpilih menjadi PM. Selain itu ia juga berusaha untuk mengamandemen konstitusi untuk meningkatkan pengaruh militer Jepang di luar negeri.
Saat ini, di Jepang setidaknya terdapat tiga kelompok besar dalam menyikapi masa depan kekuatan militer Jepang (Zhang & Montaperto, 1999). Kelompok pertama disebut sebagai kelompok ”mainstream”. Semenjak pertengahan 1990-an, kelompok ini didominasi oleh kalangan realis-militer yang menginginkan Jepang memperoleh tanggungjawab politik dan militer yang lebih besar di dalam kerjasama pertahanan bilateral. Pasukan Beladiri Jepang (SDF) harus meningkatkan kemampuan command, control, communication and intelligence (C3I) dan memiliki kemampuan (power) militer yang independen. Berkaitan dengan kerjasama pertahanan AS-Jepang, kelompok ini berpandangan bahwa Jepang dan AS harus membangun forum dialog keamanan (security dialogue) serta meningkatkan saling-pemahaman (mutual understanding) dan efektivitas aliansi.
Kelompok kedua disebut sebagai kelompok nasionalis. Kelompok ini berpandangan bahwa Jepang harus membangun kemampuan pertahanan sendiri dan melepaskan diri dari AS. Langkah awal yang diusulkan adalah merevisi konstitusi yang membatasi Jepang untuk mengembangkan kemampuan militer. Sementara kelompok ketiga adalah para Pasifis. Kalangan Pasifis menginginkan Jepang memberikan kontribusi di dalam kepemimpinan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan mengakhiri kerjasama keamanan dengan AS. Selain itu, kalangan Pasifis juga mendukung Jepang untuk mempertahankan konstitusi yang damai dan mengurangi kemampuan militernya.
Ada sejumlah faktor yang mendorong berkembangnya pemikiran untuk meningkatkan kemampuan militer Jepang yaitu, pertama, persepsi ancaman keamanan dari Cina. Sejumlah perselisihan yang terjadi antara Cina dan Jepang, terutama yang berkaitan dengan luka sejarah ekspansi Jepang ke Cina, yang diikuti dengan aktivitas modernisasi militer Cina telah melahirkan kecemasan di Jepang. Bagi Jepang, Cina merupakan ancaman terbesar keamanannya. Hal ini dapat terlihat dari hasil jajak pendapat yang dilakukan harian Jepang Yomiuri Shimbun bahwa 65,3% dari 1.867 responden menyatakan bahwa Cina tidak dapat dipercayai. Persentase tersebut merupakan yang tertinggi dari enam kali jajak pendapat yang sama yang dilakukan oleh Yomiuri Shimbun sejak 1988.
Kedua, kecemasan terhadap aktivitas militer Korea Utara. Kemampuan rudal balistik Korea Utara (Taepodong-1) yang mampu menjangkau seluruh wilayah Jepang, serta diikuti oleh penolakan Korea Utara untuk mematuhi aturan-aturan keamanan internasional tentunya mendapat perhatian yang serius dari Jepang. Kecemasan ini tampak dari pernyataan Sekretaris Utama Kabinet Jepang, Shinzo Abe berkaitan dengan uji coba rudal yang dilakukan Korea Utara bulan Juli lalu. Abe menyatakan bahwa jika memang tidak ada pilihan, Jepang dapat saja menyerang basis-basis rudal Korera Utara sebagai upaya mempertahankan diri.
Ketiga, desakan dari masyarakat lokal dan keinginan dari AS sendiri untuk mengurangi kehadiran kekuatan militernya di Asia Timur. Munculnya beragam persoalan sosial berkaitan dengan kehadiran tentara AS di sejumlah negara telah melahirkan protes dan penolakan dari beragam masyarakat di negara-negara bersangkutan (Jepang, Korea Selatan dan Filipina). Selain itu, peningkatan ancaman keamanan non-konvensional (terorisme) terhadap AS di berbagai kawasan menyebabkan AS terpaksa mengatur ulang penggelaran (deployment) pasukannya di seluruh dunia. Ini dapat dilihat dari keinginan AS untuk mengurangi jumlah pasukannya di Korea Selatan dari 32.500 menjadi 20.000 dalam beberapa tahun ke depan. Diperkirakan, pasukan-pasukan ”eks-Korsel” tersebut akan digunakan AS untuk menjalankan misi-misi lainnya di luar wilayah Asia.
Kompetisi Persenjataan
Seandainya Abe terpilih menjadi PM ada sejumlah permasalahan yang harus ia perhatikan sebelum meningkatkan kemampuan militer Jepang. Pertama, Asia Timur merupakan kawasan yang pengembangan Confidence Building Measures (CBMs) dan kerjasama multilateralnya berjalan tidak efektif. Hal ini dapat dilihat dari penyusunan buku putih pertahanan (defense white paper). Buku putih pertahanan setidaknya berisi empat hal utama yaitu, penilaian ancaman, tujuan kepentingan nasional, postur pertahanan terkini dan rencana pengembangan pertahanan. Namun di dalam prakteknya tidak semua negara di Asia Timur menyusun buku putih pertahanannya sesuai ketentuan. Sejumlah hal masih dianggap tabu untuk disosialisasikan. Ini disebabkan oleh masih dominannya pendekatan kepentingan nasional di dalam interaksi antar negara di Asia Timur.
Kedua, sebagaimana Jepang, Cina pun menganggap Jepang sebagai salah satu sumber ancaman keamanan terbesarnya (Crane, et.al., 2005). Persepsi ancaman ini dilandasi oleh sejarah ekspansi yang dilakukan Jepang terhadap Cina di masa lalu. Para pemimpin dan perancang strategi Cina selalu waspada terhadap terhadap kebangkitan Jepang sebagai kekuatan militer. Bagi mereka perubahan doktrin, struktur pertahanan dan gelar kekuatan yang dilakukan Jepang merupakan bukti upaya Jepang untuk meningkatkan kemampuan militer dan meningkatkan pengaruhnya di kawasan. Selain itu, Cina juga menaruh perhatian terhadap kerjasama keamanan antara Jepang dan AS. Cina memiliki ketakutan bahwa tanpa disadari, AS mempersenjatai kembali Jepang melalui perdagangan bilateral di bidang senjata dan teknologi pertahanan, khususnya kerjasama sistem pertahanan rudal. Kecemasan ini beralasan mengingat pada tahun 2004, AS dan Jepang telah menandatangani kerjasama sistem pertahanan rudal. Bagi Cina, kerjasama pertahanan militer AS-Jepang ditakutkan merupakan sebuah strategi regional untuk menghambat dan membendung pengaruh Cina di Asia.
Dengan lemahnya CBMs, maka solusi yang diambil Cina berkaitan dengan peningkatan kemampuan militer Jepang adalah, dapat saja, berupa melanjutkan terus program modernisasi militernya untuk menandingi (mencapai paritas) peningkatan kemampuan militer Jepang. Jika ini yang terjadi maka kompetisi persenjataan di Asia Timur akan terus berlanjut. Sebagaimana dijelaskan oleh Andrew Mack dan Desmond Ball bahwa ketakutan terhadap kebangkitan Cina dan Jepang merupakan salah satu alasan terjadinya modernisasi dan kompetisi persenjataan di Asia Timur (Mack & Ball, SDSC Working Paper, 1992). Hingga kini modernisasi dan kompetisi tersebut terus berlanjut. Hal ini dapat dilihat berdasarkan laporan SIPRI. Pada tahun 2000-2004, pengiriman senjata ke Asia merupakan yang tertinggi di dunia sebesar US$33.573 juta. Sebagai perbandingan, pengiriman senjata ke kawasan Amerika adalah US$6.932 juta, Afrika US$5.130 juta, Eropa US$21.875 juta, Timur Tengah US$ 14.517 juta. Dari US$33.573 juta tersebut, porsi pengiriman senjata ke Asia Tenggara (Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina dan Indonesia) tercatat sebesar US$3.482 juta dan Asia Timur Laut: Cina (US$11.677 juta), Korea Selatan (US$2.755 juta), dan Taiwan (US$ 1.571 juta) dan Jepang (US$ 975 juta).
Dengan melihat fenomena-fenomena demikian, Abe harus betul-betul mempertimbangkan secara matang keinginannya untuk meningkatkan kemampuan militer Jepang. Karena implikasinya dapat berupa dilema keamanan: bukannya menciptakan keamanan bagi Jepang, malah sebaliknya meningkatkan kerentanan keamanan nasional Jepang dan kawasan Asia Timur.
• Tulisan ini pernah dimuat di harian Kompas tanggal 22 September 2006 dengan judul yang sama.
Wendy Andhika
No comments:
Post a Comment