"A lot of people think international relations is like a game of chess. But it's not a game of chess, where people sit quietly, thinking out their strategy, taking their time between moves. It's more like a game of billiards, with a bunch of balls clustered together."
Madeleine Albright
Security is the foundation on which peace and prosperity is built. Without it, no nation can plan and build its future. Defense is commitment to the future.

Monday, November 05, 2007

Keamanan Energi dan Potensi Perlombaan Senjata

Naiknya harga minyak hingga hampir mencapai US$100 per barel telah menyebabkan kelangkaan pasokan di sejumlah negara sehingga melahirkan kekhawatiran terjadinya gejolak sosial-politik. Kenaikan ini dipicu oleh ketidakstabilan politik dan keamanan di Timur-tengah, selain karena memang terjadi peningkatan permintaan minyak dunia, khususnya di Cina dan India.

Sulit untuk memperkirakan bahwa harga minyak ini akan cepat turun karena situasi politik di Timur-tengah saat ini tidak menunjukan tanda-tanda penurunan eskalasi. Selain itu, sejumlah negara di belahan utara dan selatan pun mulai memasuki awal musim dingin, yang tentunya akan mengonsumsi minyak lebih besar.


Strategi Militer
Kenaikan harga minyak yang selalu mengancam stabilitas ekonomi, politik dan sosial semakin membuktikan bahwa minyak merupakan faktor yang fundamental bagi setiap negara. Minyak merupakan faktor yang menentukan keberlangsungan hidup negara dan masyarakatnya. Kondisi ini mendorong negara untuk selalu berusaha memperoleh jaminan akses energi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Fenomena inilah yang kemudian melahirkan konsep keamanan energi atau energy security.

Ketika telah terjadi proses sekuritisasi atas kebutuhan energi, dalam hal ini adalah minyak, maka strategi militer merupakan salah satu strategi untuk memperoleh jaminan akses energi. Penggunaan strategi militer dalam penjaminan akses energi merupakan faktor yang wajar mengingat: 1) strategi keamanan hampir selalu berkait dengan penggunaan kekuatan militer, dan; 2) Sumber-sumber minyak dunia seluruhnya berada di kawasan yang panas dan rawan konflik: Timur-tengah, Afrika, Asia Tengah dan sejumlah wilayah di Asia Timur.

Di Kawasan Asia Timur saja, setidaknya ada 5 wilayah yang potensial melahirkan konflik militer terkait keamanan energi, yaitu Kepulauan Paracel, Kepulauan Spratly, Laut Natuna, Kepulauan Senkaku dan Laut Timor. Bahkan, sejumlah kasus memperlihatkan konflik di wialyah tersebut tersebut telah sampai pada konflik militer dimana masing-masing negara mengerahkan kekuatan militernya untuk menghadang lawan, yang seringkali berakhir dengan konfrontasi senjata (Klare, 2001).

Perlombaan Senjata
Ketika strategi militer telah menjadi pilihan untuk mengamankan akses energi maka kebutuhan pengembangan persenjataan menjadi keharusan. Di Asia Timur, Cina dan Jepang sudah memperlihatkan perkembangan ke arah yang demikian.

Cina saat ini tengah melakukan modernisasi persenjataan dengan memberi penekanan pada penguatan kekuatan laut yang mengarah pada blue water navy, yaitu penguasaan kemampuan militer untuk beroperasi di lautan bebas. Hal ini terlihat dari keinginan angkatan laut Cina untuk memiliki kapal induk. Diperkirakan tahun 2015 nanti Cina akan memiliki kapal induk tersebut.

Selain itu, Cina juga menjalin kerjasama strategis dengan Pakistan dan Myanmar. Dengan Pakistan, Cina memperoleh akses pelabuhan di Gwadar, Pakistan. Sementara dengan Myanmar, Cina memperoleh akses fasilitas laut di Dawei, Myanmar. Penguasaan blue water navy yang diikuti oleh keberadaan pangkalan militer di Pakistan dan Myanmar tentunya akan membuka akses Cina ke Asia Selatan dan Timur Tengah yang kaya minyak dan mengontrol jalur laut perdagangan internasional yang menyuplai kebutuhan energi bagi Cina.

Kesadaran tentang perlunya jaminan keamanan energi juga dipengaruhi dari perubahan paradigma militer sejak tahun 1985. Perubahan paradigma ini mengubah cara pandang Cina dalam menilai ancaman. Pertama, Cina melihat lautan sebagai sumber ancaman bagi kepentingan nasionalnya. Pertumbuhan penduduk dan perkembangan ekonomi mendorong negara-negara mencari sumber-sumber daya baru untuk mendukung perubahan yang terjadi dan lautan merupakan ruang baru bagi pencarian sumber daya tersebut. Bagi Cina, fenomena tersebut dilihat sebagai potensi konflik antar-negara dalam perebutan sumber daya alam. Kedua, pembangunan ekonomi adalah masalah pokok dan kekuatan militer (PLA) memiliki peran penting dalam mendukung pembangunan ekonomi (Nan Li, 2001). Dalam konteks kontemporer, hubungan ini tampak dari kepentingan jaminan ketersedian energi bagi kontinuitas pembangunan ekonomi. Sehingga, jika diperlukan, Cina dapat menggunakan kekuatan militernya untuk menjamin ketersedian energi.

Sebagai negara yang mengandalkan seluruh kebutuhan energinya dari ekspor, Jepang sangat berkepentingan menjaga akses energinya. Kepentingan ini dijawab dengan memperkuat kekuatan militernya. Kebutuhan Jepang memperkuat kekuatan militernya untuk mengamankan pasokan energi terlihat dari skenario potensi ancaman Cina terhadap Jepang, yaitu: 1) jika terjadi konflik bersenjata antara AS-Cina, Jepang akan terlibat di dalam konflik tersebut sebagai akibat dari komitmen kerjasama antara Jepang-AS; 2) Konflik Cina-Jepang dapat bersumber dari konflik klaim teritori (Pulau Senkaku) dan perebutan sumber daya laut, dan; 3) Cina melakukan manuver-manuver militer yang mengancam Jepang (mis, jaminan pasokan energi jepang, pen) di Laut Cina Selatan untuk mengamankan kepentingannya.

Untuk mengantisipasi potensi ancaman tersebut, Jepang melakukan: 1) meningkatkan kemampuan air-refueling yang berguna untuk memperluas wilayah jangkauan operasi militer di kawasan selatan Jepang; 2) Melakukan peningkatan kemampuan (upgrade) terhadap pangkalan udara yang terletak di pulau-pulau di sekitar Kepulauan Senkaku; 3) Memperbesar armada militer angkutan udara; 4) Membentuk pasukan reaksi cepat (Rapid Deployment Force), dan; 5) Meningkatkan kemampuan (up-grade) sistem AEGIS angkatan laut.

Selain Asia Timur, kawasan Timur Tengah dan Asia Tengah juga memiliki potensi melahirkan perlombaan senjata akibat kebijakan keamanan energi. Ketakutan AS terhadap Iran yang akan mengembangkan senjata nuklir dibalik keinginannya mengembangkan energi nuklir sebagai energi alternatif jangka panjang, mendorong AS memberikan bantuan dana modernisasi persenjataan bagi Israel dan negara-negara arab sekutu AS. Bantuan dana tersebut tentunya dilatarbelakangi oleh kepentingan AS untuk mencegah Iran menjadi kekuatan regional dominan di kawasan teluk yang dapat mengancam pasokan minyak bagi AS dan sekutu-sekutunya di seluruh penjuru dunia.

Sementara di kawasan Asia Tengah, masuknya AS ke kawasan ini demi kepentingan minyak mendorong terjadinya konflik dengan Rusia yang melihat kawasan tersebut sebagai wilayah pengaruhnya. Selain juga, adanya konflik kepentingan ekonomi diantara ke duanya berkaitan dengan perebutan sumber daya energi. Kecenderungan bagi terjadinya perlombaan senjata diantara ke dua negara dapat terlihat dari keputusan Rusia untuk mengaktifkan kembali pesawat-pesawat pembom strategisnya untuk melakukan patroli udara. Walaupun Rusia tidak secara terang-terangan menyatakan AS sebagai faktor penyebab lahirnya kebijakan tersebut, konflik yang memanas diantara ke dua negara tersebut dapat memperlihatkan alasan keberadaan kebijakan keamanan tersebut.

Penutup
Fenomena di atas memperlihatkan bahwa kebijakan keamanan energi dapat melahirkan ketidakamanan di dalam sistem internasional. Keidakamanan ini akhirnya kembali membahayakan keamanan energi dengan meningkatnya harga minyak dunia akibat insatbilitas di dalam sistem internasional. Fenomena ini menunjukan bahwa jika negara-negara di dunia tidak cepat mengantisipasi persoalan ini, dunia dapat terjebak ke dalam lingkaran setan ketidakamanan global yang dipicu oleh kepentingan keamanan energi.

wendy andhika

8 comments:

  1. Anonymous11:35 am

    Selamat siang Mas Wendy,
    Tulisan yang menarik. Sepertinya Mas Wendy sangat "realis" sekali... =)
    Apa kira2 saya bisa berdiskusi dgn Mas Wendy untuk masalah energy security ini lbh jauh? Saya sedang menyiapkan tugas akhir yg berhubungan dgn energy security, dan mungkin Mas Wendy tertarik utk mengeluarkan "ilmu kanuragan"-nya... ^^
    Thx.

    rgds,
    Lodya Habsanthiara.

    ReplyDelete
  2. kamu mo tanya ap ttg energy security?

    ReplyDelete
  3. Anonymous6:45 pm

    mnrt mas wendy, strategi apa yg dibutuhkan pemerintah kita utk mengamankan cadangan energinya di masa depan? lets say, until 2030 or 2050...

    ReplyDelete
  4. @ anonymous:
    waduh...aku g tau tu indo hrs gmn, soale masalah yg ditanyakan udah jauh dr fokus studiku. aku hanya melihat pengaruh energy security terhadap konflik.

    tapi, mungkin, menurutku suatu saat indonesia pst akan bergantung pd sumber energi dari luar (impor). jika itu terjadi maka indonesia hrs punya kemampuan untuk mengamankan akses dan jalur transportasi energinya (umumnya menggunakan jalur laut) dari tempat asal hingga ke indonesia. ini artinya indonesia harus punya kekuatan militer yang tangguh untuk mengamankan akses dan jalur transportasi energi tersebut.

    ReplyDelete
  5. Anonymous10:50 am

    saya ingin turut berpatisipasi dengan memberikan komentar tambahan(sebagain) mengenai energy security yang berkaitan dengan adanya pertanyaannya yang hubunganya apa langkah2 Indonesia pada tahun2 mendatang:
    1.Indonesai sudah impor 60% energynya (migas) untuk kebutuhan dalam negri.Sekarang ini Indoesia,sudah impor satu juta barel per hari,yang terbagi dala crude oil sebesar 500 ribu barel per hari dan 500 ribu barel per hari BBM.2,Kedepannya Indonesia harus melakukan apa yang disebut FOREIGN's OIL STRATEGY-maknanya untuk mendapatkan cadangan2 minyak di Timur tengah,afrika dan asia tengah seperti kazhaktan,rusia.
    3.berbagai tulisan mengenai energy scurity yang menyangkut Indonesia dapat dilihat di JURNAL INTELIJEN DAN KOUNTER INTELIJEN.Jurnal ini bisa diperoleh di Gramedia Pondok Indah mall.
    salam,
    Dirgo D.Purbo

    ReplyDelete
  6. mas wendy...saya sedang mentusun skripsi dengan kajian keamanan energy. kalau boleh saya ingin sharing ttg masalah energy d asia timur

    ReplyDelete
  7. Anonymous12:02 am

    tulisan yang menarik mas wendy, kebetulan saya lg buat makalah tentang energy security. dalam kacamata realis, memang paling tepat untuk meletakkan keamanan energi ini sebagai salah satu pemicu konflik antar negara. Misalnya perebutan kepentingan dalam mengakses sumber energi di suatu wilayah. Selain itu jg sering dikaitkan dalam bentuk ancaman bagi negara ketika suatu negara membangun kapabilitas militernya yang secara tidak langsung didukung oleh pasokan energi (teknologi canggih) dalam jumlah cukup besar, shg arms race pun tak terelakkan.

    akan tetapi, untuk di masa datang, saya memandang isu energy security ini akan memaksa semua belah pihak untuk bekerja sama dalam menjaga persediaan yang ada, karena krisis energi diperkirakan akan menjadi salah satu isu global yang akan terjadi, mengingat beberapa negara developed &developing countries sgt berlebihan dalam pemakaiannya.

    bagaimana menurut pandangan mas wendy akan hal ini

    ReplyDelete
  8. Anonymous10:16 am

    bang, bisa minta sarannya gak bila sy ambil jdl skripsi energy security

    ReplyDelete