Keinginan Taiwan ini kini telah disetujui oleh kongres AS. Namun, pemerintah AS bersikap sebaliknya. Pemerintah AS hanya memberikan kesempatan kepada Taiwan untuk melakukan upgrade F-16A/B milik mereka. Sikap ini dipercaya dipengaruhi oleh penolakan Cina dan kemungkinan terjadinya ketegangan di selat Taiwan akibat penjualan tersebut.
AS Perlu Menjual F-16 ke Taiwan
Dalam pandangan penulis, AS sebaiknya menjual F-16 kepada Taiwan. Ada 3 alasan yang melatarbelakangi pandangan tersebut. Pertama, untuk menjaga kredibilitas AS di mata internasional. Kedua, mengurangi kecemasan di Asia-Pasifik akibat adanya persepsi ancaman Cina. Ketiga, isu penjualan senjata AS ke Taiwan bukan isu besar dalam hubungan lintas selat Taiwan.
Saat ini di masyarakat internasional berkembang persepsi jika AS sedang mengalami kemunduran. Sebaliknya, Cina dipersepsikan sebagai kekuatan yang sedang bangkit dan akan berkonflik dengan AS dalam banyak hal. Dalam konflik tersebut Cina akan menggunakan power yang mereka miliki untuk memengaruhi kebijakan AS. Dokumen bocoran Wikileaks memperlihatkan adanya keinginan Cina untuk menggunakan surat hutang AS yang mereka miliki dalam jumlah besar untuk memengaruhi kebijakan AS, termasuk yang terkait dengan penjualan senjata AS kepada Taiwan. Bocoran ini memperlihatkan kepada masyarakat internasional bahwa saat ini Cina, hingga taraf tertentu, telah mampu mengimbangi kekuatan AS. Selanjutnya, seandainya AS, dibawah tekanan Cina, mengikuti maunya Cina maka persepsi internasional bahwa AS mengalami kemunduran dan kehilangan power saat berhadapan dengan Cina akan makin menguat. Konsekuensinya adalah kredibilitas AS di panggung internasional akan memudar.
Terkait dengan keinginan Taiwan untuk membeli F-16, jika AS menolak keinginan tersebut maka persepsi yang sama akan muncul. Masyarakat internasional akan melihat kebijakan tersebut sebagai keberhasilan Cina menekan AS sekaligus makin memudarnya kekuatan global AS. Konsekuensinya adalah, sekali lagi, kredibilitas AS sebagai penjaga keamanan global juga memudar.
Di kawasan Asia-Pasifik kredibilitas AS yang memudar akan meningkatkan kecemasan atas kehadiran Cina di kawasan tersebut karena di kawasan ini AS memiliki posisi yang penting, yaitu sebagai stabilisator kawasan. Pentingnya posisi AS ini dapat terlihat dari apa yang terjadi ketika AS menutup pangkalan militer mereka di Filipina, yaitu meningkatnya kecemasan di kawasan yang berujung pada modernisasi persenjataan yang dilakukan oleh negara-negara di Asia-Pasifik (Acharya, 1994)
Hal yg sama akan terjadi pula jika AS menolak menjual senjata (F-16) kepada Taiwan. Kecemasan bahwa AS kehilangan power berhadapan dengan Cina akan meningkatkan kecemasan negara-negara di kawasan dimana salah satu manifestasinya adalah modernisasi persenjataan yang dapat berujung pada perlombaan senjata. Potensi perlombaan senjata ini tampak makin besar jika menengok konflik yang terjadi di laut Cina Selatan antara Cina, Taiwan, Vietnam, Malaysia, Filipina dan Brunei.
Isu Penjualan Senjata Bukan Isu Besar
Selain itu, dinamika di selat Taiwan selama ini juga memperlihatkan bahwa penjualan senjata AS ke Taiwan tidak memberikan dampak besar pada hubungan ketiga negara tersebut. Alexander Huang, seorang pakar hubungan Cina-Taiwan mencatat: pertama, kerjasama Taiwan-Cina yang kini makin meningkat memperlihatkan bahwa selama ini isu penjualan senjata AS ke Taiwan tidak memberikan pengaruh besar pada hubungan Taiwan-Cina.
Kedua, senjata-senjata yang dibeli oleh Taiwan dari AS tidak pernah meningkatkan kemampuan militer Taiwan secara signifikan maupun mengancam Cina. Kemampuan militer Taiwan tetap berada di level moderat karena pembelian senjata selama ini hanya bersifat defensif. Ketiga, ketegangan yang terjadi antara Taiwan dan Cina selama ini lebih banyak disebabkan oleh perbedaan pandangan politik antara Taiwan dan Cina daripada isu penjualan senjata AS kepada Taiwan.
Dengan demikian, demi kestabilan kawasan AS sebaiknya menerima permintaan Taiwan untuk membeli 66 unit pesawat tempur F-16C/D dan tidak perlu cemas bahwa penjualan tersebut akan memperburuk hubungan segitiga antara AS, Cina dan Taiwan.
Wendy Prajuli
No comments:
Post a Comment