Poros maritim dunia merupakan doktrin
politik luar negeri yang ditawarkan oleh Jokowi sebagai alternatif atas doktrin politik luar negeri a million friends, zero enemy milik Susilo Bambang Yudhoyono.
Pada masa-masa kampanye pemilihan presiden
doktrin poros maritim dunia ini kurang terelaborasi dengan baik walaupun setelah
diumumkan ke publik langsung mengundang perdebatan, terutama di kalangan
pemerhati hubungan internasional.
Definisi dan penjelasan yang lebih lengkap
tentang doktrin ini baru muncul setelah pemilihan presiden selesai, khususnya
melalui 2 artikel yang ditulis masing-masing oleh Muradi (pengajar di
Universitas Padjadjaran, Bandung) dan Rizal Sukma (direktur eksekutif CSIS,
Jakarta).
Muradi, melalui artikelnya di majalah Gatra No. 38-39/XX/24 Juli-6 Agustus 2014 menjelaskan ada 3 faktor yang yang menjadi latar belakang lahirnya doktrin poros maritim dunia, yaitu pergeseran kekuatan ekonomi dunia dari Barat ke Asia, khususnya lahirnya Tiongkok sebagai salah satu kekuatan ekonomi dunia. Pergeseran kekuatan ekonomi ini menyebabkan “medan tempur” politik internasional juga bergeser ke kawasan Asia-Pasifik yang berada dekat dengan wilayah Indonesia.
Kedua, selain terjadi pergeseran kekuatan
dunia, hubungan internasional saat ini juga mengalami pergeseran pertarungan
dan konflik internasional. Jika di masa lalu, khususnya pada masa Perang Dingin,
konflik dan pertarungan internasional didominasi oleh ideologi, kini konflik
dan pertarungan didominasi oleh kompetisi ekonomi dan perebutan sumber daya.
Ketiga, posisi strategis Indonesia yang
berada dipersilangan 2 benua dan 2 samudera menuntut Indonesia untuk memberikan
perhatian maksimal pada isu-isu maritim. Sayangnya hal tersebut tidak terjadi
selama ini.
Untuk mewujudkan politik luar negeri
berbasis doktrin poros maritime dunia, Muradi menawarkan 3 strategi implementasi.
Pertama, memperkuat kekuatan pertahanan maritim Indonesia. Kedua, membangun
jembatan penghubung antar pulau di Indonesia (tol laut) dan mengembangkan dan
memperkuat ekonomi maritim berbasis partisipatif. Muradi mendefinisikan ekonomi
maritim berbasis partisipatif sebagai sistem ekonomi dimana “negara ikut hadir
dalam memastikan penguatan dan pengembangan ekonomi berbasis maritim.”
Ketiga, “memperkuat jangkauan diplomasi maritim
yang memiliki efek strategis” dimana salah satu caranya adalah dengan memgembangkan
sistem pertahanan terintegrasi (laut, udara dan darat) melalui pelaksanaan
komando gabungan wilayah pertahanan (Kogabwilhan).
Sementara Rizal Sukma menjelaskan poros maritim
dunia dapat dipahami dalam 3 makna: poros maritim sebagai visi tentang
Indonesia masa depan, poros maritim dunia sebagai “doktrin yang memberi arahan mengenai tujuan
bersama”, dan poros maritim dunia sebagai sebuah gagasan operasional.
Untuk mewujudkan ide poros maritim dunia
tersebut, Sukma menjelaskan ada 3 strategi yang perlu dilakukan oleh Indonesia.
Pertama, harus ada upaya pengarusutamaan wawasan bahari ke dalam sistem pendidikan
Indonesia. Sehingga di masa depan Indonesia memiliki sumber daya manusia yang
memahami dunia maritim dalam berbagai perspektif dan keilmuan.
Kedua, harus ada penguatan infrasruktur maritim
untuk mendukung pelaksanaan seluruh kegiatan berbasis maritim.
Ketiga, Indonesia harus menyadarai bahwa pembangunan
maritim butuh kesabaran dan dukungan masyarakat yang luas karena pembangunan
ini membutuhkan biaya yang besar, dukungan teknologi yang cukup, dan waktu yang
panjang.
wendy prajuli
*Gambar milik Wisata Indonesia
No comments:
Post a Comment