Menjelang dan saat kedatangan George W. Bush ke Indonesia 20 November lalu, suasana politik domestik tampak memanas dengan beragam penolakan dan tuntutan untuk mengakhiri hubungan diplomatik dengan AS. Beragam penolakan dan tuntutan ini tampaknya lebih dipengaruhi oleh faktor emosional dibandingkan kalkulasi rasional, karena ada sejumlah faktor yang harus diperhatikan sebelum memutuskan untuk menolak dan mengakhiri hubungan dengan AS.
Faktor pertama, yang menjadi persoalan utama di dalam hubungan Indonesia-AS bukanlah apakah akan menjadi antek AS atau tidak, melainkan sejauh mana Indonesia mampu mengambil peluang dalam berhubungan dengan AS. Kemampuan mengambil peluang ini ditunjukan oleh India. Untuk mengantisipasi perkembangan Cina ke depan, AS mengajukan tawaran kerjasama strategis dengan India. India mengerti tentang kepantingan AS tersebut dan mengajukan sejumlah tawaran. Pada bulan Juli 2005 India dan AS menandatangani kerjasama bidang pertahanan selama 10 tahun. Melalui kerjasama ini, AS maupun India, masing-masing akan memperoleh keuntungan. AS membutuhkan India untuk menghadapi dominasi Cina di kawasan Asia. Salah satu kepentingan tersebut adalah mengamankan selat Malaka bagi jalur kebutuhan energi/minyak sekutu-sekutu AS dari penguasaan Cina.
Sementara bagi India, AS merupakan mitra potensial untuk mengembangkan kekuatan perekonomian, teknologi dan militer, yang akan mendorong India menjadi kekuatan regional di Asia. Untuk mencapai tujuan tersebut, saat ini India telah mengembangkan proyek yang disebut dengan ”Project Seabird”. Yaitu pembangunan pangkalan laut di Karwar, pangkalan udara, gudang persenjataan dan silo peluru kendali yang akan diselesaikan dalam waktu 5 tahun ke depan dengan total biaya US$8,13 milyar. Pangkalan laut Karwar ini akan mampu melindungi jalur maritim India ke laut Arab untuk pengamanan jalur energinya.
Selain itu sejumlah fakta menunjukan bahwa tidak semua negara yang dekat dengan AS mengalami kemunduran. Singapura, Jepang, Korea Selatan dan negara-negara Eropa Barat, yang selama ini dikenal dekat dengan AS, mengalami kemajuan ekonomi dan politik. Sebaliknya, Irak, Afganistan (dibawah Taliban), Korea Utara dan Kuba, yang mengambil garis berseberangan dengan AS, mengalami kemunduran atau setidaknya stagnan. Ini semakin memperkuat argumentasi bahwa kemampuan mengambil peluang dalam berhubungan dengan AS merupakan faktor kunci kemajuan negara.
Faktor kedua, posisi AS sebagai kekuatan sentral di Asia-Pasifik. Di dalam dinamika keamanan Asia-Pasifik, AS merupakan stabilisator dan penyeimbang (balancer) di kawasan. Di kawasan ini ada sejumlah persoalan yang membutuhkan kehadiran AS yaitu, kecemasan atas pertumbuhan militer Cina dan Jepang, persoalan nuklir Korea Utara, konflik Cina-Taiwan, konflik Korea Utara-Korea Selatan dan konflik teritorial diantara negara-negara di Asia-Pasifik. Ini dibuktikan oleh pernyataan salah satu staf senior departemen pertahanan Malaysia untuk menanggapi ditutupnya pangkalan AS di Filipina, “the… withdrawal of a US military presence… from its Philippines bases… will have an impact on the balance of power in South-East Asia. The ASEAN states have come to realize that they must develop a degree of self-reliance so as to be able to cope with internal and external problem” (Amitav Acharya,1994).
Faktor ketiga, AS memiliki ketergantungan terhadap Indonesia. Indonesia merupakan negara pemilik jalur laut terbanyak di Asia Timur. Empat dari enam jalur laut utama dunia (world vital chokepoints) di Asia Timur berada di Indonesia. Dan salah satu jalur laut tersebut adalah Selat Malaka. Diperkirakan, 63.000 kapal laut melewati Selat Malaka mengangkut seperempat dari total perdagangan dunia dan setengah dari total minyak dunia. Bank Dunia memperkirakan bahwa perdagangan dunia melalui jalur laut akan meningkat dari 21.000 juta ton-mil pada tahun 1999 menjadi 35.000 juta ton-mil pada 2010 dan 41.000 juta ton-mil pada 2014. Perhitungan Bank Dunia tersebut memperlihatkan pentingnya jalur Selat Malaka bagi perekonomian dunia. Selain itu, Selat Malaka setiap harinya juga menjadi urat nadi lalu-lintas transportasi minyak bumi sebesar 9,4 juta barel yang menghidupi perekonomian Asia Tenggara dan Asia Timur Laut, khususnya Cina dan Jepang.
Dengan posisi vital demikian, AS memiliki kepentingan besar terhadap Indonesia, tidak hanya bagi kepentingan AS semata namun juga bagi kepentingan sekutu-sekutu AS di seluruh dunia. Saat ini, AS merupakan konsumen minyak bumi terbesar di dunia. Hal itu terlihat dari konsumsi minyaknya yang mencapai 19,7 mbd pada 2002. Pada tahun 2020 diperkirakan AS akan mengimpor sebesar 25% dari kebutuhan minyaknya dari negara-negara di kawasan Samudera Hindia. Begitu pula dengan Jepang sebesar 76%.
Posisi geostrategis tersebut menuntut Indonesia untuk bersikap moderat dalam berhubungan dengan AS. Sikap berseberangan dan ekstrim hanya akan merugikan Indonesia karena AS tidak akan tinggal diam melihat kepentingan strategisnya di Indonesia terancam.
Dengan melihat fenomena-fenomena demikian, tuntutan anti-AS yang diserukan sejumlah kalangan selayaknya dievaluasi kembali. Karena implikasinya sangat besar bagi Indonesia.
wendy andhika
No comments:
Post a Comment