Dua hari yang lalu Global Times menurunkan
berita tentang rencana Xi Jinping untuk mengunjungi Rusia dan Afrika Selatan sebagai
kunjungan perdanya sebagai Presiden Cina pasca pelantikan di bulan Maret nanti.
Rencana ini mengundang pertanyaan mengapa bukan Amerika Serikat sebagai tujuan
lawatan pertama Xi. Apalagi mengingat hubungan Cina dan Amerika Serikat yang
makin kompetitif di Asia-Pasifik.
Setidaknya ada dua alasan yang dapat dikemukakan dalam menjawab
pertanyaan tersebut. Pertama, sikap ini merupakan ekspresi dari kompetisi kekuatan antara Cina dan AS di Asia-Pasifik.yang diikuti oleh rasa percaya diri Cina yang makin meningkat di sistem
internasional, khususnya terhadap AS. Dengan tidak menempatkan AS sebagai tujuan lawatan pertama Cina ingin menunjukan bahwa dia tidak berada di bawah bayang-bayang dominasi AS. Selain itu, sikap ini juga menunjukan pengaruh kalangan nasionalis yang kuat di dalam kebijakan luar negeri Cina.
Kedua, Cina melihat Rusia sebagai sekutu
potensial untuk menghadapi kebijakan AS untuk mengimbangi kehadiran Cina yang
makin kuat di Asia-Pasifik. Sikap Cina yang makin mendekat ke Rusia dan upaya
Cina membangun hubungan persekutuan yang makin erat dengan Rusia telah tampak sejak
pertengahan 2000an. Sebagai contoh, upaya tersebut terlihat dari kerjasama militer Cina dan Rusia yang meningkat sejak 2005.
Perubahan konstelasi politik internasional
tersebut membawa, paling tidak, dua implikasi. Pertama, rasa percaya diri Cina
yang meningkat atas AS berpotensi meningkatkan ketegangan antara Cina dan AS,
sepanjang kedua negara tidak bisa menemukan pola manajemen konflik yang baik
diantara mereka. Kedua, pola hubungan antara Cina-AS akan makin kompleks dengan
keterlibatan Rusia di dalam hubungan Cina-AS tersebut. Apalagi jika mengingat hubungan
Rusia-AS yang juga tidak bisa dibilang harmonis. Pada akhirnya dua faktor tersebut
berpotensi mengancam stabilitas regional di Asia-Pasifik.
Wendy Prajuli
No comments:
Post a Comment