"A lot of people think international relations is like a game of chess. But it's not a game of chess, where people sit quietly, thinking out their strategy, taking their time between moves. It's more like a game of billiards, with a bunch of balls clustered together."
Madeleine Albright
Security is the foundation on which peace and prosperity is built. Without it, no nation can plan and build its future. Defense is commitment to the future.

Wednesday, July 01, 2015

Kecelakaan Hercules C-130 dan Masalah Perawatan Alutsista

Selasa kemarin, 30 Juni 2015, Indonesia dikejutkan oleh jatuhnya sebuah pesawat angkut personel berjenis Hercules C-130 di tengah kota Medan. Kecelakaan ini menelan korban lebih dari 100 orang, baik sipil dan militer. Banyak orang, kemudian, mengaitkan ini dengan kondisi pesawat tersebut yang telah berumur tua. Menurut berita, Hercules yang jatuh ini merupakan produksi tahun 60an. Artinya, saat mengalami kecelakaan, pesawat tersebut telah berumur separuh abad. Lalu, solusi yang digulirkan adalah Indonesia harus menghentikan pembelian atau menerima hibah mesin-mesin perang tua atau bekas. Saya SETUJU (bahkan sangat setuju) jika Indonesia memilih membeli mesin-mesin perang baru daripada membeli atau menerima hibah mesin-mesin perang tua.

Namun, menempatkan 'kondisi sudah tua' sebagai penyebab kecelakaan sebuah mesin perang bukan hal yang sepenuhnya tepat juga. Karena kelaikan sebuah mesin perang ditentukan oleh perawatannya. Jika perawatannya baik, mesin perang tua pun bisa berfungsi dengan baik. Sebaliknya, jika perawatannya buruk, mesin perang baru pun akan cepat rusak.

Perawatan mesin perang tua memang lebih mahal daripada mesin perang baru. Sehingga akan lebih efisien jika sebuah negara membeli mesin perang baru. Sebagai contoh adalah pesawat tempur A10 Thunderbolt milik AS. Pesawat ini diproduksi pada pertengahan 70an hingga pertengahan 80an. Hingga saat ini masih digunakan oleh AS dan berfungsi dengan baik karena dirawat dengan baik pula. Pesawat ini sekarang sedang bertugas menghadapi pasukan ISIS di Timteng. Pada 2007, di AS, sempat ada usulan untuk memensiunkan pesawat ini karena biaya perawatannya mahal tetapi usulan tersebut ditolak karena belum ada pengganti yang sesuai dengan kapabilitas pesawat tersebut.

Persoalan perawatan mesin-mesin perang yang dimiliki Indonesia ini perlu mendapat perhatian serius dan, mungkin juga, perhatian khusus. Karena kecelakaan mesin-mesin perang Indonesia sudah sering terjadi dan sebagian besar berakhir dengan memakan korban meninggal. Kedua, beberapa tahun yang lalu seorang pejabat di lingkungan Angkatan Udara (TNI-AU) pernah menulis di salah satu media nasional jika perawatan pesawat udara di lingkungan TNI-AU jauh dari kata baik. Beliau bercerita bahwa anggaran yang digelontorkan oleh pemerintah untuk perawatan mesin-mesin perang di TNI-AU jumlahnya kecil. Sehingga menyulitkan TNI-AU untuk membeli onderdil asli untuk mengganti onderdil-onderdil yang rusak atau habis masa pakainya. Sehingga terpaksa melakukan kanibalisasi atau membeli onderdil non-orisinil. Dengan kondisi perawatan seperti demikian, sangat mungkin jika kecelakaan mesin-mesin perang yang terjadi selama ini disebabkan oleh bagaimana mesin-mesin tersebut dirawat.


Wendy Prajuli

No comments:

Post a Comment