Selasa kemarin, 30
Juni 2015, Indonesia dikejutkan oleh jatuhnya sebuah pesawat angkut personel
berjenis Hercules C-130 di tengah kota Medan. Kecelakaan ini menelan korban lebih dari 100
orang, baik sipil dan militer. Banyak orang, kemudian, mengaitkan ini dengan
kondisi pesawat tersebut yang telah berumur tua. Menurut berita, Hercules yang
jatuh ini merupakan produksi tahun 60an. Artinya, saat
mengalami kecelakaan, pesawat tersebut telah berumur separuh abad. Lalu, solusi
yang digulirkan adalah Indonesia harus menghentikan pembelian atau menerima
hibah mesin-mesin perang tua atau bekas. Saya SETUJU (bahkan sangat setuju) jika
Indonesia memilih membeli mesin-mesin perang baru daripada membeli atau
menerima hibah mesin-mesin perang tua.
Namun,
menempatkan 'kondisi sudah tua' sebagai penyebab kecelakaan sebuah mesin perang
bukan hal yang sepenuhnya tepat juga. Karena kelaikan sebuah mesin perang
ditentukan oleh perawatannya. Jika perawatannya baik, mesin perang tua pun bisa
berfungsi dengan baik. Sebaliknya, jika perawatannya buruk, mesin perang baru
pun akan cepat rusak.
Perawatan mesin perang tua memang lebih mahal
daripada mesin perang baru. Sehingga akan lebih efisien jika sebuah negara
membeli mesin perang baru. Sebagai contoh adalah
pesawat tempur A10 Thunderbolt milik AS. Pesawat ini diproduksi pada
pertengahan 70an hingga pertengahan 80an. Hingga saat ini masih digunakan oleh AS dan
berfungsi dengan baik karena dirawat dengan baik pula. Pesawat
ini sekarang sedang bertugas menghadapi pasukan ISIS di Timteng. Pada 2007, di
AS, sempat ada usulan untuk memensiunkan pesawat ini karena biaya perawatannya
mahal tetapi usulan tersebut ditolak karena belum ada pengganti yang sesuai
dengan kapabilitas pesawat tersebut.
Persoalan
perawatan mesin-mesin perang yang dimiliki Indonesia ini perlu mendapat
perhatian serius dan, mungkin juga, perhatian khusus. Karena kecelakaan mesin-mesin perang Indonesia sudah
sering terjadi dan sebagian besar berakhir dengan memakan korban meninggal. Kedua,
beberapa tahun yang lalu seorang pejabat di lingkungan Angkatan Udara (TNI-AU)
pernah menulis di salah satu media nasional jika perawatan pesawat udara di lingkungan
TNI-AU jauh dari kata baik. Beliau bercerita bahwa anggaran yang digelontorkan
oleh pemerintah untuk perawatan mesin-mesin perang di TNI-AU jumlahnya kecil. Sehingga
menyulitkan TNI-AU untuk membeli onderdil asli untuk mengganti
onderdil-onderdil yang rusak atau habis masa pakainya. Sehingga terpaksa
melakukan kanibalisasi atau membeli onderdil non-orisinil. Dengan kondisi perawatan seperti demikian,
sangat mungkin jika kecelakaan mesin-mesin perang yang terjadi selama ini
disebabkan oleh bagaimana mesin-mesin tersebut dirawat.
Wendy Prajuli
No comments:
Post a Comment