Tulisan ini terinspirasi oleh berita ini
dan artikel di blog ini, dimana keduanya mempermasalahkan bagaimana kita, orang
Indonesia, harus menyebut Kerajaan Tengah (中国 atau Middle Kingdom) di Utara
sana. Persoalan penyebutan ini bermula dari keberatan yang disampaikan oleh
Kerajaan Tengah tersebut atas penggunaan kata ‘Cina’ dalam penyebutan nama
negara tersebut. Bagi mereka istilah Cina dipandang rasis karena berkait dengan
sikap diskriminatif atas etnis Cina atau Tionghoa di Indonesia.
Ada
3 pilihan kata yang tersedia untuk menyebut Kerajaan Tengah tersebut: Cina,
China dan Tiongkok. Kata Cina tidak
disukai oleh Kerajaan Tengah karena, seperti telah disinggung di atas, dianggap
rasis dan diskriminatif terhadap etnis Cina/Tionghoa. Bahkan juga dianggap merendahkan
etnis Cina/Tionghoa. Kerajaan Tengah menyarankan atau lebih tepatnya menekan kita untuk menggunakan kata ‘China’
yang diambil dari bahasa Inggris. Masalahnya adalah kaidah bahasa Indonesia
tidak mengenal kata ‘China’ yang dilafalkan sebagai ‘cai.na’. Dengan demikian,
menggunakan ‘China’ sebagai penyebutan sama saja melangkahi kaidah yang
dimiliki oleh bahasa nasional kita.
Lalu apa solusinya? Menurut saya, seperti disarankan oleh Santo Darmosumarto, penulis blog Diplomatic Knots, penggunaan ‘Tiongkok’ sebagai penyebutan Kerajaan Tengah merupakan pilihan yang
tepat. Ada 2 alasan yang dapat dikemukakan. Pertama, ‘Tiongkok’ merupakan titik
kompromi antara kita dan mereka di Kerjaan Tengah sana. Istilah ‘Tiongkok’ tidak
melanggar kaidah bahasa Indonesia. Karena istilah ini sudah ada sejak lama. Namun
pada masa Orde Baru sengaja dihilangkan dengan alasan politis. Di sisi lain ‘Tiongkok’
juga mengakomodasi keinginan Kerajan Tengah yang berkeberatan dengan istilah ‘Cina’.
Kedua, secara politis, penggunaan ‘Tiongkok’
juga menunjukan bahwa kita, bangsa Indonesia, tidak bisa seenaknya diatur atau
ditekan oleh negara lain dalam berbahasa sehari-hari. Apalagi jika negara asing
tersebut sampai mengacak-acak kaidah bahasa nasional yang kita miliki.
Jadi, mulai sekarang marilah kita mulai
menggunakan istilah ‘Tiongkok’ untuk menyebut Kerajaan Tengah tersebut, baik untuk kebutuhan resmi, maupun tak resmi.
Wendy Prajuli
No comments:
Post a Comment