Ketika 2 negara berselisih kemampuan
pengelolaan krisis menjadi kunci yang akan menentukan apakah perselisihan tersebut
akan berakhir pada peperangan atau perdamaian. “Hukum alam” ini juga berlaku
pada perselisihan antara Indonesia dan Australia saat ini. Jika kedua belah
pihak gagal dalam mengelola krisis yang sedang berlangsung, hal terburuk yang
akan terjadi adalah krisis ini bertranformasi menjadi perang.
Tulisan singkat ini berusaha untuk melihat
bagaimana kedua belah pihak mengelola krisis yang sedang berlangsung. Ada 2 catatan
yang perlu diberikan sebelum pembahasan tersebut dilakukan. Pertama, fokus dari
tulisan ini adalah pada kebijakan pemerintah dan perilaku yang dilakukan elit
politik dalam merespon perselisihan tersebut. Pemerintah dalam hal ini
merupakan lembaga eksekutif maupun legislatif.
Kedua, di dalam tulisan ini, sebagai pihak
yang merasa dirugikan, Indonesia ditempatkan sebagai pihak yang memberikan
tekanan kepada pemerintah Australia. Sebagai pihak yang dirugikan sangat wajar
jika Indonesia melakukan tekanan dan mengambil sikap yang cenderung keras di
dalam perselisihan. Namun sikap keras ini musti diperhitungkan dengan cermat agar tidak terjatuh pada sikap atau kebijakan yang provokatif. Sementara, Australia, ditempatkan sebagai pihak yang
mendapatkan tekanan. Di dalam posisi ini Australia, secara ideal, harus
mengambil kebijakan atau sikap yang berusaha meredakan sikap keras lawan.
Indonesia
Ketika pertama kali skandal penyadapan ini
terbongkar pemerintah Indonesia masih bersikap tenang dan berusaha meredam
gejolak yang terjadi dengan menyatakan hubungan Indonesia dan Australia masih
tetap kuat.
Di saat bersamaan pemerintah Indonesia memanggil
perwakilan Australia di Indonesia untuk memberikan penjelasan.
Namun di sela-sela sikap tenang pemerintah
tersebut, seorang staf dari Kementerian Pemuda dan Olahraga mengeluarkan pernyataan provokatif dalam menyikapi serangan daring (cyber)
yang dilakukan oleh sejumlah hacker
dari indonesia. Beliau menyatakan, "Banci kalau mengaku hacker Indonesia tapi tak mau menyerang
situs Australia dan Amerika Serikat." Pernyataan yang senada juga diutarakan oleh anggota parlemen Indonesia.
Berbeda dengan sikap yang ditujukan oleh
kedua pihak di atas, Kementerian Komunikasi dan Informasi Indonesia menyatakan
jika tindakan peretasan merupakan pelanggaran hukum dan hanya akan memperkeruh
situasi.
Situasi berubah ketika dokumen terbaru
terbongkar dan menyatakan percakapan telepon sejumlah pejabat pemerintahan, termasuk
Presiden dan Ibu Negara, disadap Australia. Pemerintah Indonesia, melalui Menteri
Luar Negeri, bereaksi dengan mengeluarkan pernyataan pemerintah akan mengambil 3
langkah kebijakan, yaitu memanggil perwakilan Australia di Indonesia untuk
memberikan penjelasan, memanggil pulang Duta Besar Indonesia di Australia, dan
melakukan kaji ulang kerjasama dengan Australia.
Selain itu, Presiden SBY, melalui akun
Twitternya, menyosialisasikan kebijakan pemerintah, serta mengeluarkan sejumlah pernyataan ketidaksenangan dan kecaman
terhadap pemerintah Australia yang melakukan penyadapan.
Selanjutnya, pemerintah Indonesia, melalui
Presiden SBY menyatakan, sambil menunggu jawaban resmi pemerintah Australia atas
skandal penyadapan tersebut, pemerintah Indonesia menghentikan kerjasama
militer dan intelijen dengan Australia.
Pernyataan Pemerintah Indonesia ini kemudian disusul oleh pemanggilan pulang pesawat
tempur Indonesia yang akan melakukan latihan bersama dengan Angkatan Udara
Australia.
Selain pihak eksekutif, anggota parlemen Indonesia
pun juga mengeluarkan pernyataan atas skandal penyadapan tersebut. Umumnya pernyataan
yang dikeluarkan adalah meminta eksekutif untuk mengusir perwakilan Australia
di Indonesia. Sebagai contoh adalah pernyataan yang dikeluarkan anggota Komisi
1 DPR-RI, Meutya Hafid.
Selain itu, ada pula anggota parlemen Indonesia yang memberikan pernyataan jika kerjasama
antara Indonesia dan Australia dihentikan maka Australia akan mendapatkan
kerugian lebih besar.
Australia
Tidak berbeda dengan sikap Pemerintah
Indonesia, ketika aksi mata-mata Australia terbongkar Pemerintah Australia
melalui Menteri Luar Negeri menyatakan jika hubungan Indonesia dan Australia
tetap baik dan tidak terpengaruh oleh skandal tersebut. Ini menunjukan
Australia berusaha tetap tenang dan menjaga hubungan agar tetap stabil. Selain itu Julie Bishop, sebagai Menteri
Luar Negeri Australia juga berusaha meyakinkan Indonesia jika Australia tidak
ada maksud untuk merugikan hubungan dan kerjasama antara Indonesia dan
Australia.
Namun sikap ini berubah ketika
Perdana Menteri Australia, Tony Abbott, menyatakan jika tindakan memata-matai
negara lain merupakan hal yang lumrah.
Selain itu Abbott juga menyatakan dirinya menyesal atas penyadapan telepon
Presiden Indonesia.
Namun, Abbott menolak meminta maaf kepada Indonesia. Sikap Abbott ini mendapatkan kritik dari anggota
Parlemen Australia yang meminta Abbot untuk meminta maaf kepada Indonesia
sebagaimana Amerika Serikat meminta maaf kepada Jerman.
Penutup
Jika kebijakan dan sikap dari kedua negara tersebut ditabelkan, maka akan didapat tabel seperti berikut. Melalui tabel tersebut terlihat jika pengelolaan krisis di antara kedua belah pihak masih belum baik. Indonesia beberapa kali mengeluarkan pernyataan provokatif.
Selain itu, keputusan SBY untuk berkicau di Twitter untuk menyampaikan kebijakan dan sikap dia atas kebijakan Australia juga tidak tepat. Alangkah baiknya jika SBY menyosialisasikan kebijakan dan menyampaikan sikapnya melalui konferensi pers dengan mengundang media nasional maupun internasional.
Selain itu, keputusan SBY untuk berkicau di Twitter untuk menyampaikan kebijakan dan sikap dia atas kebijakan Australia juga tidak tepat. Alangkah baiknya jika SBY menyosialisasikan kebijakan dan menyampaikan sikapnya melalui konferensi pers dengan mengundang media nasional maupun internasional.
Sementara, Australia, khususnya pihak eksekutif, juga belum mengambil kebijakan yang berusaha meredakan sikap keras Indonesia. Pihak eksekutif Australia masih kekeuh dengan sikap kerasnya untuk menolak minta maaf kepada Pemerintah Indonesia.
wendy prajuli
*Gambar milik Spin Sucks
No comments:
Post a Comment