Senin kemarin (9 Oktober 2006) Korea Utara berhasil melakukan percobaan nuklir. Keberhasilan tersebut meletakkan Korut sebagai salah satu negara nuklir di dunia setelah AS, Inggris, Perancis, RRC, India, Pakistan dan Rusia.
Ada sejumlah faktor yang dapat digunakan untuk menjelaskan ketertarikan sebuah negara terhadap persenjataan nuklir. Namun, dalam konteks Korea Utara akan digunakan dua faktor untuk menjelaskan ketertarikan tersebut yaitu, kapabilitas kekuatan militer konvensional Korea Utara yang rendah dan kepentingan politis.
Walaupun Korea Utara memiliki 1,08 juta pasukan atau 44% dari total populasi, kapabilitas kekuatan militer konvensional Korea Utara lemah. Ini terlihat dari usangnya tank-tank yang dimiliki Korea Utara, seperti T-54/55/59s, T-62 dan T-34s. Begitu pula dengan sistem pertahanan udara statisnya. Sementara pilot-pilot Korea Utara hanya bisa latihan kurang dari 50 jam terbang dalam setahun. Ketidakmampuan Korea Utara meningkatkan kapabilitas tempurnya disebabkan oleh kondisi perekonomian yang buruk. Dengan memiliki senjata nuklir Korea Utara berusaha mengisi kekurangan kapabilitas persenjataan konvensionalnya tersebut.
Sementara alasan politis lebih dilandasi kepentingan untuk menaikan posisi tawar (bargaining position) Korea Utara di level internasional. Ini berkaitan dengan sikap komunitas internasional yang mengalienasi dan bersikap keras terhadap Korea Utara. Senjata nuklir akan digunakan untuk menekan komunitas internasional agar melibatkan Korea Utara di dalam percaturan global. Selain juga untuk memajukan kepentingan-kepentingan Korea Utara seperti, mencabut sanksi keuangan internasional yang diterimanya.
Perimbangan Kekuatan
Di dalam sistem internasional yang anarkis, stabilitas akan dicapai melalui perimbangan kekuatan (balance of power). Perimbangan ini bersifat dinamis yaitu, setiap saat dapat berubah sejalan dengan perubahan-perubahan yang berkembang, baik di tingkat nasional maupun internasional. Namun, pada akhirnya perimbangan baru akan tercipta, entah melalui jalur damai maupun kekerasan (perang). Pertanyaannya kemudian adalah: apakah keberhasilan Korea Utara melakukan percobaan nuklir akan merubah perimbangan kekuatan di Asia Timur?
Jika melihat kondisi Korea Utara, sulit untuk menyatakan bahwa perimbangan kekuatan di Asia Timur akan berubah. Walaupun dengan pemilikan senjata nuklir kapabilitas militer Korea Utara dapat meningkat, kondisi perekonomiannya yang buruk menghambat korea Utara menjadi kekuatan regional di Asia Timur. Sulit untuk membayangkan sebuah negara menjadi kekuatan regional tanpa didukung oleh kedua faktor tersebut, militer dan ekonomi.
Kemungkinan perubahan perimbangan kekuatan datang dari respon yang diberikan oleh negara-negara di Asia Timur terhadap kemampuan nuklir Korea Utara. Jika melihat perkembangan terakhir, melalui sikap kerasnya terhadap Korea Utara, Jepang dapat menjadi pemicu pergeseran perimbangan kekuatan di Asia Timur. Kemampuan delivery system Korea Utara (Taepodong I), yang dalam beberapa tahun ke depan kemungkinan akan dapat membawa hulu ledak nuklir, yang dapat mencapai seluruh wilayah Jepang dapat mendorong Jepang untuk meningkatkan kemampuan militernya. Salah satunya telah dimulai melalui pengembangan sistem pertahanan rudal balistik (balistic missile defense system) bekerjasama dengan AS. Pemerintah Jepang telah menyatakan bahwa ambisi Korea Utara untuk menguasai senjata nuklir dan modernisasi militer Cina merupakan ancaman utama Jepang saat ini. Jika Jepang melakukan modernisasi militer maka negara-negara lain di seluruh kawasan Asia Timur akan melakukan hal yang sama karena ketakutan terhadap kebangkitan militer Jepang merupakan alasan negara-negara di kawasan ini melakukan modernisasi persenjataan. Apalagi jika Korea Utara sukses dalam pengembangan Taepodong II yang memiliki daya jelajah 4.400 km-6.700 km. Sehingga mampu menjangkau AS (Alaska), India, Pakistan dan seluruh wilayah Indonesia.
Dengan melihat konflik yang terjadi, Asia Timur merupakan kawasan yang rawan konflik antar negara (inter-state conflict). Berkaitan dengan klaim wilayah, di Asia Timur terdapat beberapa sumber konflik teritorial yaitu, Kepulauan Paracel, Kepulauan Spratly, Laut Natuna, Laut Timor, Kepulauan Diaoyu/Senkaku dan Perairan Ambalat. Wilayah-wilayah tersebut merupakan wilayah yang kaya sumber daya mineral. Konflik di wilayah-wilayah itu bahkan telah sampai pada konflik militer. Dimana masing-masing negara mengerahkan kekuatan militernya untuk menghadang lawan, yang seringkali berakhir dengan konfrontasi. Ini memperlihatkan bahwa perubahan perimbangan kekuatan di Asia Timur potensial melahirkan perang (terbatas) sebelum mencapai perimbangan baru.
Dengan melihat efek nuklir Korea Utara yang demikian besar selayaknya masyarakat internasional tidak lagi menggunakan pola alienasi dan sikap yang keras dalam menghadapi Korea Utara. Karena terbukti sikap demikian malah memprovokasi Korea Utara untuk bersikap makin agresif. Keinginan Korea Utara untuk berdialog langsung dengan AS menjadikan AS sebagai faktor kunci dalam perubahan sikap masyarakat internasional tersebut. Selayaknya tawaran Korea Utara tersebut disambut positif oleh AS demi kepentingan stabilitas di kawasan Asia Timur.
Wendy Andhika P.
menurut gw negara2 di kawasan asia timur harus lebih hati2 dengan situasi yang berkembang di semenanjung korea akhir2 ini. setelah korea utara mengembangkan program nuklirnya apalagi pernah mencoba senjata nuklirnya pada tahun 98 yang melewati wilayah jepang. jepang sendiri masih "dikekang" oleh UUD-nya terutama dalam pasal 9 konstitusi 1947. namun jepang saat ini terlihat ingin merevisi konstitusinya tersebut.hal ini telah dilakukan jepang dalam berbagai tindakan, diantaranya, pengiriman pasukan perdamaian PBB atau peningkatan status badan pertahanannya menjadi kementerian penuh yang dapat mengajukan anggaran sendiri...
ReplyDeletemenurut saya, perundingan 6 pihak (untuk saat ini) merupakan yang terbaik, untuk menyelesaikan persoalan ini...namun jika Pyongyang tetap keras kepala, berbagai sangsi dapat dilakukan untuk menghambat atau menghentikan program nuklir korea utara...
bos saya mau minta pandangan tentang skripsi saya judulny pengaruh kebijakan Dk-PBB mengenai program nuklir korea utara terhadap stabilitas kawasan Asia TImur,. kemudian salah satu identifikasi masalahnya antara lain sejauh mana amerika menerapkan kebijakannya terkait program nuklir korut dan prospek denuklirisasi dapat menciptakan stabilitas kawasan
ReplyDeleteterima kasih sebelumnya email saya Vodka_holic84@yahoo.com
pak Wendy punya artikel tentang respon Jepang terhadap uji coba nuklir Korut 2009 gak??
ReplyDeletekLo punya saya mau lihat dOnk pak...
ini email saya ayoos_carlos@yahoo.com
Thanks befOre ya pak..
Ayoos: cb cr d situs2 berita d internet. byk ko berita ttg itu...secara garis besar si ud jls jpg merasa terancam dg ujicoba itu
ReplyDelete