Di Indonesia, taman makam merupakan tempat yang paling dihindari untuk
dikunjungi karena dianggap sebagai tempat yang menyeramkan dan penuh mistis. Sebaliknya,
di Denmark memanfaatkan taman makam untuk aktivitas kesenangan, seperti berjemur
matahari, mengasuh bayi, dan piknik,
merupakan hal yang biasa.
Pemakaman umum di Denmark lebih mirip taman kota daripada pekuburan yang
gersang dan panas, sebagaimana tampilan umum taman makam di Indonesia. Bentuk
taman makam yang menyerupai taman kota tersebut mendorong masyarakat untuk
memanfaatkannya sebagai tempat untuk bersantai.
Kebiasaan bersantai di taman makam ini bukan hal baru bagi warga Denmark. Kebiasaan demikian telah ada, paling tidak, sejak abad ke-18. Bahkan, karena kegaduhan yang disebabkan oleh kebiasaan tersebut, pada awal abad ke-19 pemerintah setempat mengeluarkan peraturan yang melarang masyarakat untuk makan dan minum, bermain musik, dan aktivitas keramaian lainnya di area pekuburan. Namun, upaya tersebut gagal.
Taman makam ini terkenal sebagai tempat peristirahatan terakhir tokoh-tokoh
terkenal dari Kopenhagen, diantaranya adalah Søren Kierkegaard, H.C. Andersen,
dan Niels Bohr. Assistens juga telah dikenal lama sebagai taman makam yang
cantik. Kecantikannya, bahkan, menginspirasi seorang penulis Swedia, Karl
August Nicander, untuk menuliskannya secara puitis saat kunjungannya ke
Kopenhagen tahun 1827,
”Untuk menikmati perayaan lain
yang lebih lembut dan tenang, suatu malam aku berjalan keluar melintasi
Nørreport menuju Taman Makam Assistens. Ini merupakan salah satu kuburan
tercantik di Eropa. Pohon-pohon rindang, jalanan setapak nan gelap, hamparan
bunga-bunga dengan warna-warna cerah, kuil-kuil yang dinaungi oleh pohon-pohon
poplar, makam-makam marmer yang diselimuti
oleh pohon-pohon dedalu tangis (weeping
willows), dan guci-guci atau salib-salib yang dibungkus oleh sekantong
mawar, aroma wewangian dan nyanyian burung, semuanya itu mengubah tempat
kematian ini menjadi sebuah surga kecil.”
Dengan kecantikannya yang demikian maka tidak aneh
jika hingga kini Assistens menjadi tempat favorit warga untuk relaksasi, entah
itu berjemur sinar matahari, berjalan-jalan mengelilingi taman makam untuk
menikmati bunga-bunga, atau sekedar duduk-duduk di bangku-bangku taman yang disediakan
di area taman makam. Untuk berkunjung ke Assistens bisa naik Metro dan turun di
stasiun Frederiksberg. Sisanya tinggal jalan menyusuri Frederiksberg Alle dan
Jagtvej ke arah Timur Laut atau dari stasiun Frederiksberg bisa naik Bus 8A
tujuan stasiun Nordhavn dan turun di Halte Jægersborggade. Untuk naik
transportasi umum di Kopenhagen sangat mudah. Cukup membeli tiket terusan yang
berlaku selama 24 jam seharga DK 130 (Rp 26.500).
Vestre dikenal sebagai
taman makam yang memiliki banyak koleksi monumen dan karya seni. Salah satu
yang terkenal adalah patung karya Arne Bang bernama En Falden atau A Fallen. Patung ini terdapat di
pintu masuk makam dan ditujukan bagi tentara Denmark yang tewas menghadapi
serbuan Nazi tahun 1940.
Taman makam ini rindang serta memiliki telaga/kolam yang sering didatangi
pengunjung untuk bersantai. Kicauan burung dan tupai yang berlarian di antara pepohonan
sangat jamak ditemukan. Jika cuaca sedang cerah, bahkan, juga akan ditemukan
para warga kota yang berjemur menikmati cahaya matahari di antara nisan-nisan
pekuburan.
Sakura Mekar di Taman Makam
Taman makam ketiga adalah Bispebjerg (Bispebjerg
Kirkegård). Ini merupakan taman makam yang, mungkin, paling dinanti untuk
dikunjungi saat musim semi tiba. Mengapa? Karena saat itulah bunga-bunga sakura
di makam tersebut bermekaran.
Taman Makam Bispebjerg merupakan icon
Kopenhagen untuk sakura karena taman makam ini sangat terkenal dengan sakura
mekarnya. Sebenarnya sakura tidak hanya tumbuh di Bispebjerg saja. Taman-taman
kota, seperti Langelinie dan Kongens Have, juga memiliki pohon-pohon sakura.
Namun yang mekar tercantik ada di Bispebjerg. Kondisi ini seolah-olah
menyampaikan pesan bahwa kematian juga bisa mewujud dalam bentuk keindahan.
Sehingga merayakan keindahan di pekuburan bukanlah hal yang tabu.
Pohon-pohon sakura di Bispebjerg terletak di sisi belakang area pekuburan.
Untuk mencapai lokasi, dari pintu masuk taman makam pengunjung harus berjalan
membelah taman makam ke arah belakang. Selama berjalan membelah taman makam ini
tidak perlu takut karena pengunjung akan ditemani oleh pemandangan cantik
bunga-bunga dan pepohonan yang ditata dan dipotong rapi. Di sisi kanan dan kiri
jalan utama makam berjajar pohon-pohon Poplar dengan bentuknya yang berdaun
hijau dan tinggi menjulang. Di luar pohon-pohon Poplar, juga akan ditemukan pohon-pohon
Dedalu Tangis, bunga Bakung berwarna kuning (Daffodil),
dan bunga Randu Tapak (Dandelion)
yang tumbuh menyebar di rumput-rumput hijau sepanjang pemakaman.
Sakura mekar di Bispebjerg juga menjadi objek foto yang terkenal selama
bulan April di Kopenhagen. Instagram dan media sosial lainnya akan dipenuhi
oleh foto-foto sakura dari tempat ini. Keriuhan di media sosial tersebut
mendorong sebagian orang datang ke Bispebjerg dengan dandanan lengkap disertai
oleh pakaian yang indah dan unik demi satu tujuan, yaitu mendapatkan foto
sempurna di bawah kerindangan pohon sakura.
Kemeriahan Bispebjerg saat sakura mekar tidak saja menarik minat warga
lokal namun juga wisatawan dan orang asing dari berbagai negara yang
kemungkinan besar tidak memiliki kebiasaan berekreasi di kuburan. Pengalaman
bergembira di taman makam ini tentu saja sebuah pengalaman baru bagi mereka,
sebagaimana Saya yang terkesima saat pertama kali melihat dan merasakan
langsung kebiasaan masyarakat Denmark bersenang-senang di taman makam.
Akhir kata, jika anda berkesempatan mengunjungi Denmark, khususnya
Kopenhagen, di saat-saat sakura mekar, jangan lupa untuk datang ke Bispebjerg
dan menikmati keindahan sakura sambil ditemani oleh nisan-nisan yang mengelilingi
anda. Untuk berkunjung ke Bispebjerg anda bisa menumpang bus 66 arah Emdrup
Torv dari stasiun besar (central station)
Kopenhagen dan turun di halte Bispebjerg
Kirkegård yang terletak persis di depan taman makam.
Omong-omong, sepotong kalimat dari sebuah blog bernama A Toddler in The Trees, yang bercerita tentang pemakaman di Denmark, berikut ini menarik untuk dicermati, “…why use all that space for just the dead? You could get double the value if it works for the living too.” Jika taman makam juga dapat memberikan manfaat bagi yang hidup, mengapa ia hanya ditujukan untuk yang telah meninggal?
Omong-omong, sepotong kalimat dari sebuah blog bernama A Toddler in The Trees, yang bercerita tentang pemakaman di Denmark, berikut ini menarik untuk dicermati, “…why use all that space for just the dead? You could get double the value if it works for the living too.” Jika taman makam juga dapat memberikan manfaat bagi yang hidup, mengapa ia hanya ditujukan untuk yang telah meninggal?
Wendy Prajuli
*Tulisan ini pertama kali dimuat di Selasar tanggal 26 Mei 2016.
No comments:
Post a Comment