"A lot of people think international relations is like a game of chess. But it's not a game of chess, where people sit quietly, thinking out their strategy, taking their time between moves. It's more like a game of billiards, with a bunch of balls clustered together."
Madeleine Albright
Security is the foundation on which peace and prosperity is built. Without it, no nation can plan and build its future. Defense is commitment to the future.

Friday, May 27, 2016

Merayakan Sakura Mekar di Kuburan? Siapa Takut!



Di Indonesia, taman makam merupakan tempat yang paling dihindari untuk dikunjungi karena dianggap sebagai tempat yang menyeramkan dan penuh mistis. Sebaliknya, di Denmark memanfaatkan taman makam untuk aktivitas kesenangan, seperti berjemur matahari, mengasuh bayi, dan piknik,  merupakan hal yang biasa.
Taman Makam sebagai Tempat Rekreasi
Pemakaman umum di Denmark lebih mirip taman kota daripada pekuburan yang gersang dan panas, sebagaimana tampilan umum taman makam di Indonesia. Bentuk taman makam yang menyerupai taman kota tersebut mendorong masyarakat untuk memanfaatkannya sebagai tempat untuk bersantai. 

Kebiasaan bersantai di taman makam ini bukan hal baru bagi warga Denmark. Kebiasaan demikian telah ada, paling tidak, sejak abad ke-18. Bahkan, karena kegaduhan yang disebabkan oleh kebiasaan tersebut, pada awal abad ke-19 pemerintah setempat mengeluarkan peraturan yang melarang masyarakat untuk makan dan minum, bermain musik, dan aktivitas keramaian lainnya di area pekuburan. Namun, upaya tersebut gagal.

Di ibukota Denmark, Kopenhagen, ada tiga taman makam terkenal dan sehari-hari ramai didatangi oleh masyarakat untuk bersantai. Yang pertama adalah Taman Makam Assistens (Assistens Kirkegård). Assistens dibuka tahun 1760 dan terletak di Nørrebro, salah satu kawasan terkenal di Kopenhagen. Awalnya taman makam ini ditujukan untuk orang miskin dan dibuka untuk mengatasi membludaknya jumlah orang yang meninggal akibat wabah yang menyerang Kopenhagen tahun 1711.   

Taman makam ini terkenal sebagai tempat peristirahatan terakhir tokoh-tokoh terkenal dari Kopenhagen, diantaranya adalah Søren Kierkegaard, H.C. Andersen, dan Niels Bohr. Assistens juga telah dikenal lama sebagai taman makam yang cantik. Kecantikannya, bahkan, menginspirasi seorang penulis Swedia, Karl August Nicander, untuk menuliskannya secara puitis saat kunjungannya ke Kopenhagen tahun 1827,

”Untuk menikmati perayaan lain yang lebih lembut dan tenang, suatu malam aku berjalan keluar melintasi Nørreport menuju Taman Makam Assistens. Ini merupakan salah satu kuburan tercantik di Eropa. Pohon-pohon rindang, jalanan setapak nan gelap, hamparan bunga-bunga dengan warna-warna cerah, kuil-kuil yang dinaungi oleh pohon-pohon poplar, makam-makam marmer yang diselimuti  oleh pohon-pohon dedalu tangis (weeping willows), dan guci-guci atau salib-salib yang dibungkus oleh sekantong mawar, aroma wewangian dan nyanyian burung, semuanya itu mengubah tempat kematian ini menjadi sebuah surga kecil.”
Dengan kecantikannya yang demikian maka tidak aneh jika hingga kini Assistens menjadi tempat favorit warga untuk relaksasi, entah itu berjemur sinar matahari, berjalan-jalan mengelilingi taman makam untuk menikmati bunga-bunga, atau sekedar duduk-duduk di bangku-bangku taman yang disediakan di area taman makam. Untuk berkunjung ke Assistens bisa naik Metro dan turun di stasiun Frederiksberg. Sisanya tinggal jalan menyusuri Frederiksberg Alle dan Jagtvej ke arah Timur Laut atau dari stasiun Frederiksberg bisa naik Bus 8A tujuan stasiun Nordhavn dan turun di Halte Jægersborggade. Untuk naik transportasi umum di Kopenhagen sangat mudah. Cukup membeli tiket terusan yang berlaku selama 24 jam seharga DK 130 (Rp 26.500).

Selanjutnya adalah Taman Makam Vestre (Vestre Kirkegård). Taman makam ini dibuka tahun 1870 untuk mendukung Asistens yang telah jenuh. Vestre terletak di sisi barat daya kota Kopenhagen. Dengan luas mencapai 54 hektar, Vestre menjadi taman makam  terluas di Denmark. Saking luasnya, taman makam ini dikelilingi oleh empat stasiun kereta: Enghave, Sydhavn, Sjælør dan Valby. Vestre mengakomodasi seluruh agama/etnis yang ada di Denmark, seperti Protestan, Katolik, Islam, dan Yahudi. Vestre bisa dicapai dengan menggunakan seluruh bus atau kereta api (S-tog) yang melewati 4 stasiun di atas. Dari stasiun-stasiun tersebut, tinggal berjalan kaki antara 5-10 menit. 

Vestre dikenal sebagai taman makam yang memiliki banyak koleksi monumen dan karya seni. Salah satu yang terkenal adalah patung karya Arne Bang bernama En Falden atau A Fallen. Patung ini terdapat di pintu masuk makam dan ditujukan bagi tentara Denmark yang tewas menghadapi serbuan Nazi tahun 1940. 

Taman makam ini rindang serta memiliki telaga/kolam yang sering didatangi pengunjung untuk bersantai. Kicauan burung dan tupai yang berlarian di antara pepohonan sangat jamak ditemukan. Jika cuaca sedang cerah, bahkan, juga akan ditemukan para warga kota yang berjemur menikmati cahaya matahari di antara nisan-nisan pekuburan.

Sakura Mekar di Taman Makam
Taman makam ketiga adalah Bispebjerg (Bispebjerg Kirkegård). Ini merupakan taman makam yang, mungkin, paling dinanti untuk dikunjungi saat musim semi tiba. Mengapa? Karena saat itulah bunga-bunga sakura di makam tersebut bermekaran.

Taman Makam Bispebjerg merupakan icon Kopenhagen untuk sakura karena taman makam ini sangat terkenal dengan sakura mekarnya. Sebenarnya sakura tidak hanya tumbuh di Bispebjerg saja. Taman-taman kota, seperti Langelinie dan Kongens Have, juga memiliki pohon-pohon sakura. Namun yang mekar tercantik ada di Bispebjerg. Kondisi ini seolah-olah menyampaikan pesan bahwa kematian juga bisa mewujud dalam bentuk keindahan. Sehingga merayakan keindahan di pekuburan bukanlah hal yang tabu.

Pohon-pohon sakura di Bispebjerg terletak di sisi belakang area pekuburan. Untuk mencapai lokasi, dari pintu masuk taman makam pengunjung harus berjalan membelah taman makam ke arah belakang. Selama berjalan membelah taman makam ini tidak perlu takut karena pengunjung akan ditemani oleh pemandangan cantik bunga-bunga dan pepohonan yang ditata dan dipotong rapi. Di sisi kanan dan kiri jalan utama makam berjajar pohon-pohon Poplar dengan bentuknya yang berdaun hijau dan tinggi menjulang. Di luar pohon-pohon Poplar, juga akan ditemukan pohon-pohon Dedalu Tangis, bunga Bakung berwarna kuning (Daffodil), dan bunga Randu Tapak (Dandelion) yang tumbuh menyebar di rumput-rumput hijau sepanjang pemakaman.  

Setiap tahun, di bulan April, warga kota dari beragam umur akan tumpah di Bispebjerg untuk menikmati bunga-bunga sakura yang mekar di antara nisan-nisan pekuburan. Saat sakura bermekaran, kemeriahan akan menyelimuti Bispebjerg. Setiap orang sibuk dengan berbagai kesenangannya. Ada yang piknik, ada yang mengambil foto diri (selfie), dan ada pula yang sekedar berjalan-jalan bersama pasangannya. Tidak saja orang dewasa, anak-anak pun bergembira dengan caranya masing-masing: berlarian dan berloncatan di antara batu-batu nisan atau memanjat pohon-pohon yang tumbuh di areal pemakaman.

Sakura mekar di Bispebjerg juga menjadi objek foto yang terkenal selama bulan April di Kopenhagen. Instagram dan media sosial lainnya akan dipenuhi oleh foto-foto sakura dari tempat ini. Keriuhan di media sosial tersebut mendorong sebagian orang datang ke Bispebjerg dengan dandanan lengkap disertai oleh pakaian yang indah dan unik demi satu tujuan, yaitu mendapatkan foto sempurna di bawah kerindangan pohon sakura. 

Kemeriahan Bispebjerg saat sakura mekar tidak saja menarik minat warga lokal namun juga wisatawan dan orang asing dari berbagai negara yang kemungkinan besar tidak memiliki kebiasaan berekreasi di kuburan. Pengalaman bergembira di taman makam ini tentu saja sebuah pengalaman baru bagi mereka, sebagaimana Saya yang terkesima saat pertama kali melihat dan merasakan langsung kebiasaan masyarakat Denmark bersenang-senang di taman makam.

Akhir kata, jika anda berkesempatan mengunjungi Denmark, khususnya Kopenhagen, di saat-saat sakura mekar, jangan lupa untuk datang ke Bispebjerg dan menikmati keindahan sakura sambil ditemani oleh nisan-nisan yang mengelilingi anda. Untuk berkunjung ke Bispebjerg anda bisa menumpang bus 66 arah Emdrup Torv dari stasiun besar (central station) Kopenhagen dan turun di halte Bispebjerg Kirkegård yang terletak persis di depan taman makam.   

Omong-omong, sepotong kalimat dari sebuah blog bernama A Toddler in The Trees, yang bercerita tentang pemakaman di Denmark, berikut ini menarik untuk dicermati, “…why use all that space for just the dead?  You could get double the value if it works for the living too.” Jika taman makam juga dapat memberikan manfaat bagi yang hidup, mengapa ia hanya ditujukan untuk yang telah meninggal?

Wendy Prajuli 

*Tulisan ini pertama kali dimuat di Selasar tanggal 26 Mei 2016.

No comments:

Post a Comment