"A lot of people think international relations is like a game of chess. But it's not a game of chess, where people sit quietly, thinking out their strategy, taking their time between moves. It's more like a game of billiards, with a bunch of balls clustered together."
Madeleine Albright
Security is the foundation on which peace and prosperity is built. Without it, no nation can plan and build its future. Defense is commitment to the future.

Sunday, April 15, 2012

Apakah Cina Makin Asertif di Laut Cina Selatan?

Is China Becoming More Assertive in the South China Sea? merupakan salah satu sub-judul dari tulisan M. Taylor Fravel  berjudul MaritimeSecurity in the South China Sea and the Competition over Maritime Rights yang dimuat di sebuah laporan berjudul Cooperation from Strength: The United States, China and the South China Sea yang diterbitkan oleh Center for New American Security, sebuah lembaga penelitian di Washington DC.

Di dalam sub-bab tersebut Fravel berargumen bahwa Cina tidaklah seasertif apa yang dibayangkan selama ini. Ada 2 indikator yang digunakan Fravel untuk memperkuat analisanya. Pertama, Cina tidak memperluas wilayah klaimnya, baik klaim kedaulatan (sovereignty claims) maupun klaim atas hak-hak maritim (maritime rights claims), di Laut Cina Selatan. Klaim kedaulatan Cina atas Kepulauan Paracel dan juga Kepulauan Spratly telah berlangsung sejak tahun 1951 dan klaim ini hanya mengacu pada klaim yang telah dilakukan oleh pemerintah Cina sebelumnya. Sementara untuk klaim atas hak-hak maritim pertama kali disampaikan oleh Cina pada tahun 1958 ketika terjadi Krisis Jinmen.

Hal yang sama juga berlaku bagi “the nine-dash line” yang muncul di peta-peta Laut Cina Selatan yang dibuat oleh Cina.  “Sembilan garis putus-putus” ini, yang menggambarkan wilayah di Laut Cina Selatan yang diklaim oleh Cina, juga bukan hal baru yang menunjukan perluasan klaim Cina di Laut Cina Selatan karena garis ini telah ada sejak tahun 1947 pada peta yang dibuat oleh Republik Cina (Republic of China) atau yang kini lebih dikenal sebagai Taiwan.  

Kedua, dalam mempertahankan klaim teritorialnya di Laut Cina Selatan, Cina tidak menggunakan kekuatan militernya. Melainkan menggunakan lembaga-lembaga sipil penegak hukum di laut, South Sea Region Fisheries Administration Bureau (SSRFAB) dan China’s Marine Surveillance Force (MSF).

Satu-satunya tindakan Cina yang dipandang Fravel berpotensi menunjukan asertifitas Cina adalah aksi Cina pada Mei 2011 yang mengganggu aktivitas kapal survei seismik milik Vietnam yang beroperasi di Laut Cina selatan dengan memotong kabel survei dari kapal tersebut. Fravel menyatakan jika frekuensi aksi serupa meningkat di masa depan maka itu dapat digunakan sebagai indikator yang menunjukan asertifitas Cina di Laut Cina Selatan.  

wendy prajuli

1 comment: