"A lot of people think international relations is like a game of chess. But it's not a game of chess, where people sit quietly, thinking out their strategy, taking their time between moves. It's more like a game of billiards, with a bunch of balls clustered together."
Madeleine Albright
Security is the foundation on which peace and prosperity is built. Without it, no nation can plan and build its future. Defense is commitment to the future.

Monday, January 02, 2012

Strategi Pertahanan “Island Chains” Cina & Keamanan Indonesia

Pada tahun 1980an Laksamana Liu Huaqing, komandan angkatan laut Cina (PLAN), membeberkan strategi pertahanan Cina yang disebut sebagai strategi Island Chains. Strategi ini mengasumsikan bahwa Cina memiliki 2 level perimeter pertahanan yang berada jauh di lepas pantai Cina. Hanya saja, hingga kini pemerintah Cina belum mengeluarkan penjelasan resmi mengenai batasan tegas dari perimeter pertahanan tersebut.


Namun, para pakar pertahanan meyakini bahwa perimeter pertama (first island chain) memanjang dari utara ke selatan melewati kepulauan Jepang, Taiwan, Filipina, dan Indonesia (Kalimantan). Sementara perimeter kedua (second island chain) memanjang dari utara ke selatan melewati kepulauan Bonin, kepulauan Mariana, Guam, dan kepulauan Caroline. Wilayah yang dicakup oleh strategi ini sangat luas dimana beberapa diantara wilayah tersebut merupakan wilayah konflik, seperti laut Cina Timur dan laut Cina Selatan.

Hingga kini Cina belum sepenuhnya mampu mengontrol seluruh wilayah yang tercakup ke dalam strategi tersebut. Saat ini, kekuatan militer Cina baru mampu mengontrol kawasan di perimeter pertama, yaitu laut Kuning, laut Cina Timur, dan laut Cina Selatan. Di atas kertas, Cina berencana untuk memiliki kemampuan mengontrol perimeter kedua dalam dua tahap. Tahap pertama Cina akan berupaya memiliki kontrol atas wilayah kepulauan Kuril, laut Jepang, Laut Filipina, kepulauan Mariana, kawasan laut Indonesia, dan kepulauan Palau pada tahun 2020. Sementara pada tahap kedua Cina akan berupaya membangun kemampuan untuk mengontrol wilayah hingga ke Guam. Tahap kedua ini diperkirakan akan tuntas pada tahun 2050.

Strategi pertahanan Cina tersebut tentunya berimplikasi terhadap keamanan Indonesia karena Indonesia menjadi salah satu pilar dari “benteng” pertahanan Cina. Artinya jika terjadi konflik atau perang di kawasan Asia-Pasifik yang melibatkan Cina, Indonesia rawan atas intervensi Cina, baik dalam bentuk invasi maupun tekanan politik. Indonesia berpotensi pula dijadikan medan perang oleh Cina untuk menghadapi lawannya.

Dengan kondisi demikian penting bagi Indonesia sedari kini mulai memikirkan langkah ke depan untuk mengantisipasi kemungkinan buruk tersebut. Kebutuhan ini makin penting jika melihat perkembangan terbaru di kawasan Asia-Pasifik dimana power competition antara AS dan Cina makin meningkat. Eskalasi yang meningkat ini terlihat dari penguatan aliansi AS-Australia dalam bentuk pemberian akses bagi penempatan 2500 pasukan AS di Australia dan adanya upaya untuk memperkuat kerjasama dengan India yang dilakukan oleh AS dan para sekutunya (Jepang dan Australia).

wendy prajuli

No comments:

Post a Comment