"A lot of people think international relations is like a game of chess. But it's not a game of chess, where people sit quietly, thinking out their strategy, taking their time between moves. It's more like a game of billiards, with a bunch of balls clustered together."
Madeleine Albright
Security is the foundation on which peace and prosperity is built. Without it, no nation can plan and build its future. Defense is commitment to the future.

Thursday, March 20, 2008

Persepsi Amerika Serikat Atas Modernisasi Sistem Pertahanan Cina (2004-2005)

Di dalam dinamika kawasan Asia-Pasifik, Cina memainkan peran yang penting. Tidak hanya di masa sekarang namun juga pada masa-masa yang lampau. Kekaisaran Cina memberikan pengaruh yang besar terhadap kerajaan-kerajaan di kawasan Asia. Hal ini dapat dibuktikan melalui pengiriman upeti yang dilakukan sejumlah kerajaan-kerajaan di wilayah Asia tenggara ke Cina untuk mengamankan wilayah kekuasaan dan perdagangannya.


Kondisi ini terus berlanjut hingga masa paska Perang Dunia II. Pada masa ini, Cina bersama-sama dengan Uni Soviet dan Amerika Serikat menjadi kekuatan yang mendominasi percaturan politik dunia. Ketiga kekuatan ini berinteraksi secara fluktuatif. Pada tahun 1950-an, Cina dan Uni Soviet menjalin aliansi militer yang erat dalam menghadapi blok barat yang dipimpin Amerika Serikat. Namun pada tahun 1960-an, Cina berkonfrontasi dengan keduanya, baik Uni Soviet maupun Amerika Serikat. Pada tahun 1970-an dan 1980-an, Cina bekerjasama dengan Amerika Serikat dalam menghadapi Uni Soviet.

Namun, di dalam sejarah perang dingin di Asia Timur, Zhang dan Montaperto menulis bahwa tidak hanya tiga kekuatan itu saja yang berpengaruh, Jepang pun diperhitungkan sebagai sebuah kekuatan militer potensial. Posisi Jepang tersebut tidak dapat dilepaskan dari peranan Amerika Serikat yang mengokupasi Jepang paska PD II. Peranan ini makin tidak dapat dilepaskan ketika Amerika Serikat menandatangani perjanjian perdamaian (peace treaty) dengan Jepang ketika pecah Perang Korea dan membawa Jepang ke dalam sistem aliansi keamanan Amerika Serikat (US security alliance system) di Asia Timur.

Pada akhir abad kedua puluh, segitiga strategis ini mengalami perubahan seiring dengan jatuhnya komunisme di akhir tahun 1980-an. Posisi Uni Soviet digantikan oleh Jepang melahirkan segitiga Sino-AS-Jepang. Pada masa ini posisi Cina makin berperan penting di kawasan, terutama sekali disebabkan oleh pertumbuhan ekonominya yang sangat tinggi. Selain itu, dalam beberapa tahun terakhir ini Cina juga melakukan modernisasi atas kekuatan militernya.

Persepsi Amerika Serikat Atas Modernisasi Sistem Pertahanan Cina
Persepsi AS terhadap modernisasi pertahanan Cina dapat dilihat dari pernyataan yang dikemukakan oleh Roger Robinson dan Richard D’Amato, ketua dan wakil ketua US-China Economic and Security Review Commission, “a significant component of China’s defence modernization strategy was to develop capability to deter U.S military involvement in any flare up over Taiwan.”(Jakarta Post, 26 April 2004). Dari pernyataan tersebut terlihat bahwa bagi AS, modernisasi pertahanan Cina merupakan ancaman bagi kepentingan dan keberadaan sekutu-sekutu AS di Asia-Pasifik. Selain itu persepsi AS terhadap modernisasi sistem pertahanan yang dilakukan Cina dapat juga dilihat dari sikap yang dikeluarkan AS berkaitan dengan keinginan negara-negara Eropa mencabut embargo senjata bagi Cina. Alasannya adalah, pencabutan embargo senjata atas Cina akan menjadi pintu masuk yang lebih lebar bagi modernisasi pertahanan yang sedang dilakukannya. Dengan demikian, sikap AS terhadap pencabutan embargo senjata dapat diletakkan dalam konteks menyikapi modernisasi sistem pertahanan yang dilakukan Cina.

Jika memperhatikan perkembangan yang terjadi di Amerika Serikat berkaitan dengan adanya keinginan Uni Eropa untuk mencabut embargo senjata atas Cina, terlihat adanya kecemasan bahwa pencabutan embargo tersebut akan melahirkan ancaman baru di kawasan Asia, khususnya Asia Timur. Sebagaimana pernyataan Menteri Luar Negeri AS saat itu, Condoleezza Rice, di Seoul tanggal 20 Maret 2005 bahwa pemerintah negara-negara Eropa bersikap tidak bertanggung jawab jika menjual persenjataan canggih kepada Cina. Karena senjata-senjata itu suatu saat dapat dipakai untuk menghadapi pasukan AS di Pasifik (Kompas, 21 Maret 2005). Ada beberapa alasan yang dapat dikemukakan mengapa AS melihat modernisasi pertahanan yang dilakukan Cina merupakan ancaman yaitu, hubungan Sino-AS yang fluktuatif. Sejarah memperlihatkan bahwa sepanjang perjalanan waktu hubungan Sino-AS selalu mengalami pasang surut.

Alasan lainnya adalah, Pertama, persoalan pelanggaran HAM. Hingga kini AS merasa bahwa semenjak tragedi Tiannanmen Cina belum menunjukan perbaikan yang berarti di bidang penegakkan HAM. Sehingga belum ada jaminan bahwa pencabutan embargo tidak akan membahayakan penegakkan HAM di dalam negari Cina sendiri maupun di kawasan. Di laporan tahunan yang dikeluarkan oleh Departemen Luar negerinya, AS menyatakan bahwa kerjasama dan kemajuan HAM di Cina mengecewakan sepanjang 2004. Beijing tidak memenuhi komitmen-komitmen yang telah dibuatnya dalam Dialog HAM AS-Cina 2002. “Catatan HAM Cina tetap menjadi salah satu kekhawatiran terbesar pemerintah AS” kata Menteri Muda untuk urusan Global, Paula Dobriansky (Media Indonesia, 2 Maret 2005).

Kedua, pencabutan embargo juga dapat menimbulkan ancaman keamanan baru di kawasan, bukan hanya menyangkut Taiwan namun juga sekutu-sekutu AS lainnya, Jepang dan Korea Selatan, bahkan mungkin AS sendiri. Sebagaimana diketahui hubungan Sino-Jepang juga diwarnai ketegangan sebagai contoh adalah kasus buku sejarah Jepang. Demikian juga antara Korea Selatan dan Korea Utara. Seperti diketahui bersama bahwa Cina memiliki hubungan yang erat dengan Korea Utara. Hal ini memungkinkan jika terjadi konflik antara Korea Selatan dan Korea Utara, Cina akan terlibat di dalamnya dengan membantu Korea Utara. Di sinilah letak kekhawatiran AS mengenai modernisasi sistem pertahanan Cina, jika seandainya terjadi perang atau konflik yang semakin tajam maka senjata-senjata yang dimiliki oleh Cina akan digunakan untuk menghadapi AS dan sekutu-sekutunya di kawasan Asia Timur. Sebagaimana dinyatakan oleh Roger Robinson dan Richard D’Amato di atas. Kecemasan yang sama juga dilontarkan oleh Komandan Pasifik Admiral William Fallon di hadapan Senate Armed Service Committee (Kompas, 10 Maret 2005).

Kesimpulan

Dalam satu dekade terakhir, anggaran militer Cina selalu mengalami peningkatan, bahkan sebuah analisis menyatakan bahwa peningkatan tersebut akan terus tumbuh hingga tahun 2025. Peningkatan ini tidak dapat dilepaskan dari upaya modernisasi yang dilakukan Cina di seluruh sektor pertahanannya. Modernisasi sistem pertahanan tersebut cukup mengkhawatirkan AS karena adanya persepsi dari AS bahwa tindakan Cina tersebut dapat menjadi ancaman, tidak saja bagi AS sendiri namun juga bagi kawasan Asia-Pasifik, khususnya terhadap sekutu-sekutu dekat AS di Asia Timur. Persepsi ini muncul berdasarkan, pertama, AS masih melihat Cina belum serius menegakkan HAM dan demokrasi. Kedua, Cina memiliki sejumlah persoalan dengan sejumlah negara-negara sekutu AS di Asia Timur, khususnya Taiwan dan Jepang.

wendy andhika

2 comments:

  1. Anonymous3:31 pm

    salam kenal tulisan anda bagus ..
    makasih banget dapat menambah wawasan saya
    kebetulan saya sedang menulis tentang cina
    kalau bisa bagaimana tentang politik luar negeri cina ...

    lama kenal
    gitsandra@yahoo.com

    ReplyDelete
  2. semakin saya tahu semakin rasa tiada cukup. terima kasih kepadamu. banyak sungguh yang saya boleh faham tentang hubungan china jepun

    ReplyDelete